BERITA

6 Tahun Macapat Idol: Disdik Batu Ajak Generasi Muda “Bangga Jadi Wong Jawa”

jatimlines1 · · Diterbitkan 16:44 · 3 menit membaca
Foto: Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Muhammad Nur Adim, A.P., saat memberikan sambutan.
Ukuran Teks:

Batu, Jatimlines.id – Di tengah gempuran TikTok dan konten instan, Dinas Pendidikan Kota Batu memilih melawan arus. Lewat ajang “Macapat Idol”, anak-anak diajak kembali ke akar: tembang, budi pekerti, dan jati diri Jawa.

    Penegasan itu disampaikan Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Muhammad Nur Adim, A.P., saat membuka Macapat Idol ke-6 di Gedung Fisik Museum HAM Omah Munir, Jalan H. Sutan Hasan Halim, Kelurahan Sisir, Kota Batu, Rabu 12 Agustus 2026.

    Bukan Sekadar Lomba, Ini Pendidikan Karakter

    Foto: Saat kegiatan sedang berlangsung, bersama Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu

    Bagi Disdik, Macapat Idol bukan ajang cari juara semata. Ini adalah proses panjang membentuk karakter.

    “Bagi kami, Macapat Idol bukan sekadar sebuah perlombaan untuk mencari siapa yang terbaik. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari proses pendidikan karakter dan pelestarian budaya,” tegas, Muhammad Nur Adim.

    Alasannya sederhana. Di dalam tembang macapat ada paket lengkap nilai hidup. Ada tata krama, ada ketekunan, ada kearifan lokal.

    “Nilai-nilai itu sangat relevan untuk ditanamkan kepada anak-anak di tengah perkembangan zaman yang semakin modern,” ujarnya.

    Selama 6 tahun berjalan, Macapat Idol terbukti bukan kegiatan seremonial. Harapannya kini naik kelas. Bukan hanya dari sisi jumlah peserta dan penyelenggaraan, tapi juga dari sisi dampak.

    Tolak Lupa Budaya Sendiri

    Nur Adim menekankan satu hal penting: anak-anak harus paham makna, bukan hanya hafal lantunan.

    “Macapat hendaknya semakin dikenal dan diminati peserta didik. Sehingga anak-anak tidak hanya mampu melantunkan tembang, tetapi juga memahami nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya,” katanya.

    Ke depan, Disdik ingin Macapat Idol jadi “pabrik” talenta. Para juara dan peserta potensial tidak boleh berhenti setelah lomba usai. Mereka harus terus dibina, diberi panggung, dan dilibatkan di kegiatan seni budaya.

    Sekolah juga diminta ambil peran. Jangan tunggu Disdik saja. Sastra, bahasa, dan seni tradisi Jawa harus dikenalkan dengan cara kreatif.

    “Teknologi dan media sosial justru dapat dimanfaatkan agar macapat tampil lebih menarik tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya,”tegasnya.

    Dari Panggung ke Gerakan

    Enam tahun adalah pijakan. Targetnya kini lebih besar. Mengubah Macapat Idol dari sekadar lomba menjadi “gerakan pelestarian budaya”.

    “Dari mencari juara menjadi membangun generasi yang mencintai budayanya. Dari panggung kompetisi menjadi ruang pendidikan karakter bagi anak-anak kita,” pungkas Nur Adim.

    Ia menutup dengan pesan dalam bahasa Jawa yang menohok:

    “Nglestarekake budaya, ngukuhake karakter, lan nyiapake generasi kang bangga marang jati dhirine.”

    Artinya: Melestarikan budaya, menguatkan karakter, dan menyiapkan generasi yang bangga dengan jati dirinya.

    Harapannya, Macapat Idol terus tumbuh. Menjadi kegiatan kebanggaan daerah yang membuktikan satu hal: maju zaman tidak harus meninggalkan akar budaya.

    Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa dengan tembangnya sendiri.

    Penulis: Akasa Putra.

    Editor : Akasa Putra.

    Tinggalkan komentar