UU TNI, JATIMLINES.ID – Regulasi dalam UU TNI yang baru telah menimbulkan pertanyaan tentang ruang kebebasan dan potensi tumpang tindih kewenangan dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam ranah siber.
Ketidak clarity acara yang jelas dalam regulasi ini menimbulkan keraguan terkait peran TNI dalam menjaga keamanan siber dan melindungi aspek demokrasi serta kebebasan sipil di dunia maya.
Dalam konteks ini, penting untuk mengeksplorasi dampak dari kekosongan regulasi dan perlunya batasan yang lebih tegas untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan serta menyediakan kepastian hukum yang diperlukan.

Ketidak Clarity Acara dalam Regulasi TNI Baru
Regulasi terbaru yang melibatkan peran TNI dalam keamanan siber telah memunculkan debat tentang sejauh mana keterlibatan militer dalam domain yang seharusnya menjadi fokus Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Ketidaktegasan dalam regulasi tersebut membuka kemungkinan terjadinya tumpang tindih kewenangan antara TNI dan instansi terkait lainnya, yang dapat berdampak pada kebebasan berpendapat dan hak-hak sipil dalam ruang digital.
Potensi Penyalahgunaan Kekuasaan
Ketidakjelasan mengenai peran TNI dalam keamanan siber juga meningkatkan risiko penyalahgunaan kekuasaan. Tanpa batasan yang jelas, terdapat potensi bagi TNI untuk menggunakan wewenangnya dalam ranah siber secara berlebihan atau bahkan untuk tujuan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan pelanggaran terhadap hak-hak individu dan kebebasan berpendapat di dunia maya.
Perlunya Batasan yang Lebih Jelas
Untuk menjaga keseimbangan antara keamanan digital dan kebebasan sipil, diperlukan batasan yang lebih tegas mengenai peran TNI dalam keamanan siber. Regulasi yang lebih terperinci dan transparan akan membantu menghindari penyalahgunaan kekuasaan serta memberikan pedoman yang jelas bagi setiap pihak yang terlibat dalam menjaga keamanan siber.

Dampak Terhadap Demokrasi dan Kebebasan Sipil
Ketika regulasi yang kurang jelas diterapkan dalam konteks keamanan siber, hal ini dapat berdampak negatif pada demokrasi dan kebebasan sipil.
Keterlibatan TNI yang tidak terkendali dapat mengancam pluralisme pendapat, kebebasan berekspresi, dan privasi individu dalam ruang digital.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa setiap tindakan yang diambil dalam rangka menjaga keamanan siber tetap memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.
Langkah-Langkah Menuju Solusi
Untuk mengatasi permasalahan ini, langkah-langkah konkret perlu diambil oleh pemerintah. Pertama, revisi dan klarifikasi terhadap regulasi mengenai peran TNI dalam keamanan siber harus dilakukan untuk menghindari ambiguitas.

Kedua, mekanisme pengawasan dan akuntabilitas yang kuat perlu ditegakkan agar tindakan yang diambil oleh TNI dalam ruang siber dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, dialog dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sipil dan pakar hukum, diperlukan untuk mencapai konsensus yang menguntungkan semua pihak.
Langkah konkret selanjutnya yang bisa diambil untuk mengatasi permasalahan ketidaktegasan regulasi dalam UU TNI terbaru terkait keamanan siber adalah sebagai berikut:
Revisi Regulasi
Pemerintah perlu segera melakukan revisi dalam regulasi yang menyangkut peran TNI dalam keamanan siber. Revisi ini harus memperjelas kewenangan TNI dalam ruang digital, termasuk batasan-batasan yang jelas mengenai tindakan yang diizinkan dan tidak diizinkan dalam konteks keamanan siber. Dengan adanya regulasi yang lebih terperinci, ketidakpastian hukum dapat diminimalisir dan kejelasan dalam pelaksanaan tugas TNI di ruang siber dapat terjamin.

Penguatan Mekanisme Pengawasan
Penguatan mekanisme pengawasan terhadap aktivitas TNI dalam keamanan siber juga perlu menjadi prioritas. Penegakan aturan dan prosedur yang ketat akan membantu mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan memastikan bahwa setiap tindakan yang diambil oleh TNI sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Masyarakat sipil, lembaga pengawas, dan organisasi non-pemerintah juga dapat turut berperan dalam mengawasi pelaksanaan kebijakan keamanan siber oleh TNI.
Penyuluhan dan Pelatihan
Upaya penyuluhan dan pelatihan terhadap personel TNI yang terlibat dalam keamanan siber juga perlu ditingkatkan. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai peraturan dan etika dalam dunia maya, personel TNI akan dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih profesional dan mematuhi standar etika yang berlaku.
Pelatihan juga dapat membantu meningkatkan kemampuan teknis dan analitis personel TNI dalam menghadapi ancaman keamanan siber yang semakin kompleks.

Kolaborasi antara TNI dan Kementerian Terkait
Kolaborasi yang erat antara TNI dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta instansi terkait lainnya, juga sangat penting dalam menangani isu keamanan siber.
Kerjasama yang baik antara berbagai pihak akan memungkinkan pertukaran informasi yang efektif, koordinasi aksi yang terintegrasi, dan penetapan kebijakan yang berbasis riset dan data. Dengan demikian, upaya menjaga keamanan siber dapat dilakukan secara lebih efisien dan efektif.
Evaluasi Reguler
Tidak hanya melakukan revisi satu kali, evaluasi reguler terhadap implementasi regulasi mengenai keamanan siber perlu dilakukan secara berkala.
Evaluasi ini akan membantu mengidentifikasi kelemahan atau kekurangan dalam regulasi yang ada, sehingga perbaikan dan penyempurnaan dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan teknologi dan dinamika keamanan siber yang terus berubah.

Dengan mengimplementasikan langkah-langkah konkret di atas, diharapkan bahwa permasalahan ketidaktegasan regulasi dalam UU TNI terbaru terkait keamanan siber dapat diatasi secara efektif.
Upaya kolaboratif antara pemerintah, TNI, lembaga pengawas, dan masyarakat sipil sangat penting untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil dalam menjaga keamanan digital tetap sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan sipil.
Kesimpulan
Keseluruhan, keberadaan regulasi yang tidak tegas dalam UU TNI terbaru menimbulkan tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara keamanan siber dan kebebasan sipil. Dengan mengimplementasikan batasan yang lebih jelas, menghindari potensi penyalahgunaan kekuasaan, dan memperkuat prinsip-prinsip demokrasi dalam keamanan siber, diharapkan bahwa keamanan digital di Indonesia dapat terpelihara tanpa merugikan aspek-aspek penting dari kehidupan demokratis.

Penulis: Eko Windarto
Editor: Red