PASURUAN – Ustadz Yusuf Hasymi dalam pengajian rutin di Masjid At-Taqwa Jagalan, Kamis (28/8/2025), menyampaikan pentingnya memiliki sikap “lapang dada” sebagai landasan spiritual dalam menghadapi kehidupan. Menurutnya, konsep ini tidak hanya berarti bersabar, tetapi juga merupakan hasil dari proses pemahaman agama yang mendalam dan meninggalkan kecenderungan duniawi.

Dalam ceramahnya, Ustadz Yusuf merujuk pada kisah Nabi Musa a.s. yang memohon kepada Allah agar dadanya dilapangkan dan didampingi oleh Nabi Harun. Ia menjelaskan bahwa lapang dada adalah kondisi ketika seseorang beralih dari ketidaktahuan menuju pemahaman, yang memungkinkannya untuk menerima kebenaran.


Dua Ciri Orang yang Berlapang Dada

Ustadz Yusuf menegaskan bahwa orang yang benar-benar memiliki lapang dada akan menunjukkan dua ciri utama, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis:

  1. Selalu Memperbaiki Diri: Orang tersebut akan terus berupaya meningkatkan kualitas diri sebagai hamba Allah, selalu bertaubat atas kesalahan, dan tidak terjerumus pada sifat keserakahan. Ia mencontohkan bagaimana kurangnya lapang dada dapat mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal seperti mencuri atau korupsi, karena segala cara dihalalkan demi mengejar kekayaan.
  2. Mempersiapkan Bekal Amal: Lapang dada akan mendorong seseorang untuk mempersiapkan bekal amal kebajikan, baik yang wajib maupun sunah, sebelum datangnya kematian. Ini menunjukkan fokus hidup yang tidak hanya pada dunia, tetapi juga pada akhirat.

Kemuliaan Nabi dan Tanggung Jawab Umat

Mengutip ayat dalam Surah Al-Insyirah, Ustadz Yusuf menjelaskan bahwa Allah telah meluaskan dada Nabi Muhammad dan mengangkat namanya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ نَشْرَحْ لَـكَ صَدْرَكَ
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 1)

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ
“dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 2)

الَّذِيْۤ اَنْقَضَ ظَهْرَكَ
“yang memberatkan punggungmu,”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 3)

وَرَفَعْنَا لَـكَ ذِكْرَكَ
“dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 4)

Ustadz Yusuf menjelaskan bahwa kemuliaan nama Nabi Muhammad terekam abadi karena disandingkan dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, terus disebut dalam adzan dan iqamah, serta dilantunkan melalui sholawat.

Selain itu, ia juga menyinggung hadis yang menganjurkan umat untuk menikah dan memperbanyak keturunan agar Nabi dapat berbangga dengan jumlah umatnya di hari kiamat kelak. Ustadz Yusuf menekankan bahwa ajaran ini perlu dipahami sebagai sebuah pesan spiritual, di tengah program pemerintah modern seperti “Dua Anak Cukup” yang bertujuan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.

Ia mengakhiri ceramahnya dengan pesan universal dari Al-Qur’an:

فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 6)

Ustadz Yusuf mengajak jamaah untuk menghadapi tantangan hidup dengan pola pikir yang benar, yang tidak hanya didasarkan pada pengetahuan tekstual, melainkan juga pada pemahaman mendalam dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Penulis: Fim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Selamat Hari Raya
Selamat Hari Raya Idul Fitri