Beranda / PENDIDIKAN / Membangun Jiwa Wirausaha dan Menjembatani Dunia Akademik Dengan Industri Melalui Pelatihan Perpajakan Rutoind Academy

Membangun Jiwa Wirausaha dan Menjembatani Dunia Akademik Dengan Industri Melalui Pelatihan Perpajakan Rutoind Academy

Batu, JATIMLINES.ID, — Ikhsan Maksum, M.Sc, seorang dosen ekonomi di UIN, Malang dan pengusaha muda yang berpengalaman sejak 2011, mengangkat isu penting terkait kesenjangan antara pendidikan akademik dan kebutuhan industri.

Melalui pengalaman dan pengamatannya, ia bersama tim mendirikan Rutin Akademi, sebuah lembaga pelatihan nonformal yang fokus pada bidang perpajakan.

Cerita perjalanan bisnis dan motivasi di balik pendirian lembaga ini menggambarkan semangat kewirausahaan dan inovasi yang penting untuk mempersiapkan lulusan agar lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja.

“Dalam dunia pendidikan, seringkali muncul pertanyaan klasik: apakah gelar saja sudah cukup untuk menghadapi kerasnya dunia industri,” tuturnya.

Ikhsan Maksum, pengajar dan wirausahawan yang menapaki dunia akademik sejak 2011, memberikan pencerahan penting melalui cerita perjalanan hidup dan bisnisnya.

Mulai dari menimba ilmu di UIN Malang pada 2011 hingga melanjutkan studi di UGM Jogja sampai 2018, Ikhsan lama merasakan rutinitas dunia akademik yang “gitu-gitu saja.” Sebagai dosen PNS dengan gaji standar, ia mencari makna lebih dari pekerjaannya.

“Bukan soal finansial, tapi soal bagaimana bisa memberikan kontribusi yang nyata,” ujarnya, Jumat, (12/6/2026).

Sebuah titik balik muncul ketika Ikhsan bertemu dengan dua rekannya yang berlatar belakang manajemen, akuntansi, dan IT.

Mereka sepakat ada gap besar antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri, terutama dalam aspek perpajakan dan akuntansi.

“Ini bukan hanya keluhan mahasiswa atau industri. Ini fakta nyata yang kami jumpai,” jelas Ikhsan.

Dari situ lahir inisiatif mereka mendirikan Routind Academy
sebagai lembaga pelatihan nonformal dengan fokus di bidang perpajakan.

Sebelumnya, mereka mengelola software house bernama PT Dicipartner Studio yang menjual aplikasi IT bernilai jutaan rupiah—namun bisnis ini tidak berjalan rutin karena permintaan proyek tidak setiap hari.

Dari pengalaman ini, mereka sadar perlunya model bisnis yang sustainable, dengan produk dan layanan yang dapat dijual secara reguler.

Routind academy lahir sebagai jawaban atas kebutuhan nyata: membekali mahasiswa dan lulusan dengan sertifikat kompetensi perpajakan yang menjadi syarat mutlak memasuki dunia kerja.

“Indonesia hidup dari pajak, dan penguasaan bidang ini sangat penting. Padahal, banyak yang belum memahami bagaimana tata kelola perpajakan itu secara praktis,” kata Ikhsan.

Langkah mendirikan lembaga ini bukan tanpa tantangan. Proses legalitas memakan waktu enam bulan dan biaya tidak sedikit, namun keyakinan mereka pada potensi pasar dan manfaat jangka panjang memotivasi mereka.

Kini, Routind academy beroperasi di bawah naungan PT Partner Studio yang melayani pelatihan dan sertifikasi perpajakan dengan jam terbang tinggi.

“Kisah ini menyajikan sebuah filosofi penting: ijazah saja tidak cukup untuk menjembatani dunia akademik ke industri. Skill dan sertifikat kompetensi tambahan adalah kunci agar para lulusan dapat bersaing dan diterima di dunia kerja,” sambungnya.

Ikhsan dan tim membuktikan bahwa kewirausahaan tidak hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga menjawab kebutuhan sosial dan membuka peluang kerja yang lebih luas bagi generasi muda.

Cerita Ikhsan Maksum dan Routind Akademi mengingatkan kita bahwa dalam dunia usaha, inovasi dan empati terhadap kebutuhan nyata bisa menjadi landasan kesuksesan.

“Ketika dunia akademik dan kebutuhan industri berjalan beriringan, maka lahirlah generasi yang siap menghadapi tantangan dan memajukan negeri ini,” pungkasnya sembari tersenyum ramah.

Penulis : Eko Windarto.

Editor : Akasa Putra.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *