Di tengah malam Pejompongan yang sunyi,
Terselip kisah sayu seorang pemuda berseri.
Affan Kurniawan, nama yang terpatri,
Menyusuri jalan, mengayuh mimpi yang suci.

Dua puluh satu tahun hidupnya berdansa,
Tulang punggung keluarga, harap tak terhitung angka.
Motor membawanya menembus peluh dan asa,
Menyulam hari dengan kerja dan lara.

Namun malam itu membawa duka membara,
Khusuknya hidup terenggut dalam sekejap bahaya.
Kendaraan Brimob mengetuk pintu ajal tanpa ampun,
Menyisakan tanya yang menggema nan pilu dalam hening.

Keluarga merintih dalam sunyi yang mencekam,
Tatapan mereka kini suram, penuh kelam.
Affan pergi membawa harap dan cita,
Meninggalkan luka, doa dan tafa.

Tak sekadar nyawa yang hilang di relung malam,
Tetapi makna keadilan yang harus dijunjung dalam diam.
Seruan bangsa menggema, transparansi harus terjamah,
Agar luka ini sembuh, dan kemanusiaan tak terabaikan.

Dialah saksi bisu hiruk-pikuk kota yang dingin,
Pengingat bahwa hidup ini rapuh, jangan dilanggar Tuhan, jangan dihinakan manusia.
Semoga tragedi ini menumbuhkan nurani dan cinta,
Agar tak ada lagi Affan di jalanan luka dan derita.

Duka menari dalam bait-bait pagi,
Bersama angin menyusup ke hati.
Affan, namamu abadi, dalam doa dan cerita,
Menjadi cahaya, mengusir gelap, mengalir dalam jiwa.

Batu, 2982025

Penulis: Eko Windarto

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Selamat Hari Raya
Selamat Hari Raya Idul Fitri