Beranda / ISLAM / Konsep Kebebasan di Islam

Konsep Kebebasan di Islam

Ustadz Anang juga menekankan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri yang berusaha mengubahnya.

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 11)

Ini berarti nasib manusia berada di tangan mereka sendiri, bukan takdir yang pasif.

Ia juga membedakan antara hidayah *Al-Irsyad (petunjuk yang bisa diberikan manusia) dan hidayah *Taufik (petunjuk dari Allah yang hanya bisa diberikan-Nya). “Kita bisa memberikan hidayah kepada orang lain, tapi hidayah taufik tidak bisa,” pungkasnya.

Di akhir ceramahnya, Ustadz Anang mendorong para jamaah untuk senantiasa meminta petunjuk kepada Allah SWT agar terus berada di jalan yang benar.

Halaman: 1 2

Tag: