Kontroversi Ifan Seventeen Ditunjuk sebagai Dirut PFN
Ifan Seventeen ditunjuk sebagai Dirut PFN (Sumber: Instagram ifanseventeen).

Indonesia, JATIMLINES.ID – Dunia perfilman Indonesia baru-baru ini dihebohkan dengan kabar penunjukan Ifan Seventeen sebagai Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN), sebuah perusahaan BUMN yang dikenal dengan produksi film Si Unyil. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Putri Viola, juru bicara Kementerian BUMN.
Kini, Ifan tidak hanya dikenal sebagai musisi, tetapi juga sebagai pemimpin di industri film. Meskipun namanya besar sebagai vokalis band Seventeen, keputusannya untuk memimpin PFN bukan tanpa alasan. Menurut Putri Viola, keputusan ini bukan sekadar penunjukan semata, tetapi berdasarkan pengalaman Ifan di dunia produksi film.
“Dari kiprahnya, Ifan bukan cuma di dunia musik saja. Ifan punya pengalaman jadi produser sehingga kemudian kita harapkan bisa membawa perkembangan baru untuk PFN,” ujar Putri saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, pada Rabu (12/3/2025).

Alasan Penunjukan Ifan Seventeen sebagai Dirut PFN
Dilansir dari detik.com, selain pengalaman di dunia perfilman, penunjukan Ifan juga merupakan bagian dari inisiatif Kementerian BUMN untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda dalam kepemimpinan.
“Yang kita harapkan ini kan ada pemimpin muda, sosok muda kita berikan kesempatan menjadi Dirut. Jadi nanti minta tolong untuk semua ya, kita lihat dari kreativitasnya, pengalamannya, background-nya, dan apa gebrakan yang bisa dibuat untuk PFN,” jelas Putri.
Meskipun hingga kini belum ada tugas spesifik yang diberikan kepada Ifan, Kementerian BUMN berharap kehadirannya bisa membawa perubahan positif bagi PFN.

“Kita tunggu saja pembuktian dari Ifan dan jajaran direksi lainnya dan yang pasti kita dukung,” tambahnya.
Tanggapan dari Sineas dan Publik
Dilansir dari suara.com, keputusan ini menuai berbagai reaksi dari insan perfilman Indonesia. Arie Kriting, aktor sekaligus sutradara film Kaka Bos, turut memberikan tanggapannya mengenai penunjukan Ifan.

Menurutnya, memberikan kesempatan kepada individu baru bukanlah masalah, tetapi harus diiringi dengan kesadaran akan kapabilitas dan kemampuan memimpin di industri film.

“Untuk saya pribadi mungkin boleh kita memberikan kesempatan. Untuk saya, lebih kepada, di era sekarang ini, kemampuan kita untuk menakar kapabilitas menurut saya penting juga,” ungkap Arie.
Ia kemudian memberikan perumpamaan, “Kalau saya jadi vokalisnya Seventeen, saya akan menakar diri saya bahwa saya tidak terlalu terlibat dengan industri ini. Kayaknya bukan saya, mungkin boleh cari teman-teman yang lain,” tambahnya.
Lebih lanjut, Arie menekankan bahwa seorang pemimpin di industri film harus memiliki kekuatan untuk menghimpun sineas dan berbagai elemen perfilman agar PFN bisa berkembang.
“Kita harus sadar dengan kapabilitasnya ketika bicara sektornya adalah industri film. Bagaimana power-nya dalam menghimpun sineas-sineas mungkin atau elemen-elemen yang dirasakan dibutuhkan untuk membangun PFN ini,” katanya.

Arie juga mengingatkan bahwa komunikasi yang baik dengan pelaku industri film menjadi faktor krusial bagi seorang pemimpin PFN.
“Membangun komunikasi, ini kan masalah komunikasi. Kalau sejak awal saja komunikasinya sudah dengan orang-orang punya kapabilitas di industri perfilman, sejak awal saja komunikasinya sudah ada kendala, itu ke depannya akan seperti apa?” imbuhnya.
Selain Arie Kriting, sejumlah sineas lain seperti Fedi Nuril, Joko Anwar, dan Luna Maya juga menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap penunjukan Ifan sebagai Dirut PFN.
Banyak sineas yang mempertanyakan kapabilitas Ifan Seventeen di industri perfilman, meskipun ia telah menegaskan bahwa dirinya pernah memproduksi film dan memiliki production house (PH) sendiri.

Kesimpulan
Penunjukan Ifan Seventeen sebagai Direktur Utama PFN menjadi sorotan publik dan menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, keputusan ini dianggap sebagai bentuk regenerasi dalam kepemimpinan BUMN dengan memberikan ruang bagi sosok muda.
Namun, di sisi lain, banyak pihak yang mempertanyakan kapabilitas Ifan dalam industri perfilman Indonesia.
Meskipun menuai kritik, publik kini menantikan langkah dan gebrakan Ifan Seventeen dalam memimpin PFN ke depannya. Akankah ia mampu membawa perubahan positif bagi industri film nasional? Semua masih harus dibuktikan dalam waktu yang akan datang.

Penulis: Nana
Editor: Red