BERITA

Lawan Candu Gadget! SMPN 7 Batu Luncurkan “Sari Madu Senju” 20 Menit Cetak Generasi Pembaca

jatimlines1 · · Diterbitkan 16:13 · 3 menit membaca
Foto: Murid SMP Negeri 07, Kota Batu, saat mengikuti program “Sari Madu Senju”
Ukuran Teks:
Kedepan, SMPN 07 Batu menargetkan program ini diperluas ke mata pelajaran lain dan melibatkan orang tua di rumah. Karena membangun budaya baca tidak bisa hanya di sekolah.

    Batu, Jatimlines.id – Di tengah gempuran gadget dan media sosial, SMP Negeri 07 Kota Batu, memilih melawan dengan cara paling sederhana: membaca buku.

    Awal Tahun Ajaran 2026/2027, sekolah yang akrab disapa “Senju Berlaju” ini meluncurkan program “Sari Madu Senju: Sarapan Literasi Menggenggam Dunia”, Jumat (7/8/2026).

    Program ini lahir dari keresahan. Minat baca murid kian tergerus karena layar HP. Jika dibiarkan, generasi akan kehilangan daya kritis.

    “Tidak Perlu Mahal, Yang Perlu Konsisten”

    Kepala SMP Negeri 07 Kota Batu, Yayuk Sari Astutik, M.Pd., melalui guru Bahasa Indonesia, Budi Prasetyo, S.Pd., menjelaskan inti program ini sangat sederhana.

    “Sari Madu Senju adalah sebuah upaya sederhana untuk membangun kebiasaan dan minat baca murid. Program ini tidak memerlukan persiapan, biaya, dan kebutuhan yang sulit dan mahal. Hanya membutuhkan pengawalan dan pendampingan secara kontinu,” tutur, guru senior ini, kepada Jatimlines.id

    Foto: Penuh semangat, murid SMP Negeri 07, Kota Batu, saat literasi.

    Filosofinya jelas: seperti madu yang manis dan menyehatkan, literasi harus disajikan setiap hari agar menjadi “sarapan” wajib bagi otak.

    Cara Kerja: 20 Menit Cukup

    Pelaksanaan Sari Madu Senju tidak ribet. Setiap pertemuan mata pelajaran Bahasa Indonesia, guru menyediakan waktu, 15-20 menit, khusus untuk membaca.

    1. Bebas Pilih Buku: Murid boleh membaca buku fiksi atau non-fiksi apa saja dari perpustakaan sekolah.
    2. Tanpa Beban: Di tahap awal, murid tidak dibebani resensi, rangkuman, atau tugas. Tujuannya hanya satu: merasakan asyiknya membaca.
    3. Kartu Kendali: Setelah membaca, murid mencatat halaman yang sudah dibaca di “Kartu Kendali Baca”. Buku kemudian dikembalikan untuk dibaca lagi di pertemuan berikutnya.

    “Harapannya, dengan begitu murid merasakan keasyikan membaca sehingga tumbuh kebiasaan dan minat bacanya,”kata Budi.

    Jawab Tantangan Zaman

    Langkah Senju ini menjadi jawaban atas tantangan besar dunia pendidikan. Data UNESCO menyebut minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Sementara studi lain menunjukkan durasi anak menatap layar bisa 6-8 jam sehari.

    Program intrakurikuler seperti Sari Madu Senju dianggap paling efektif karena menyentuh semua murid, bukan hanya yang ikut ekstrakurikuler.

    “Kami tidak ingin murid kami hanya jago scroll. Kami ingin mereka jago berpikir. Membaca adalah gerbangnya,” tambah Yayuk.

    Target: Lahirkan “Generasi Bijaksana”

    Dengan konsisten 20 menit per pertemuan, dalam 1 semester seorang murid bisa menamatkan 4-6 buku. Efeknya tidak hanya pada nilai Bahasa Indonesia, tapi juga pada kemampuan berpikir, empati, dan kosakata.

    “Semoga ini menjadi langkah kecil untuk melahirkan Generasi Bijaksana yang biasa membaca. Generasi yang haus ilmu, bukan hanya haus validasi di media sosial,”pungkasnya.

    Penulis: Akasa Putra.

    Editor : Akasa Putra.

    Tinggalkan komentar