Pentingnya Istiqomah dan Merenungkan Ciptaan Allah

Ustadz Umar Efendi dalam Pengajian Ahad Subuh (31/8/2025) di Masjid Al Ikhlas Kebonagung Kota Pasuruan menegaskan bahwa Istiqomah atau konsistensi adalah kunci dalam menjalankan ajaran Islam. Istiqomah tidak hanya sebatas ritual ibadah, tetapi juga mencakup zikir yang teratur dan ketaatan pada aturan Allah, seperti shalat lima waktu.
Ia juga menyoroti pentingnya dzikir dalam setiap aktivitas, termasuk sebelum berhubungan suami istri, sebagai bentuk perlindungan bagi keturunan dari godaan setan.
Hubungan Manusia dengan Allah dan Sesama
Ustadz Umar Efendi membagi hubungan manusia menjadi dua, yaitu vertikal (Hablum Minallah) dan horizontal (Hablum Minannas).
- Hablum Minallah (Hubungan Vertikal): Ini adalah komunikasi berkelanjutan dengan Allah.
- Hablum Minannas (Hubungan Horizontal): Ini adalah interaksi sosial atau bermasyarakat. Ustadz menekankan pentingnya etika, seperti senyum dan sapa, bahkan kepada orang yang tidak dikenal. Ia juga mengingatkan bahwa jabat tangan dan ucapan salam (Assalamu’alaikum) dapat menghapus dosa-dosa selama jabat tangan tersebut tidak dilepaskan.
Selain itu, ia mengajak untuk saling berbagi sesuai kemampuan, baik itu harta, ilmu, fisik, atau doa.
Pelajaran dari Alam Semesta dan Kisah Iblis
Ustadz Umar Efendi mengajak jamaah untuk merenungkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW: “Wala tafakkaru fi dzaatillah, wa tafakkaru fi khalqillah” (Janganlah kamu memikirkan tentang dzat Allah, tapi pikirkanlah tentang ciptaan-Nya).
- Pentingnya Merenung: Merenungkan ciptaan Allah membantu manusia tidak merasa sombong, karena menyadari betapa kecilnya diri di hadapan keagungan-Nya.
- Kesombongan adalah Penghancur: Kesombongan menjadi akar kehancuran. Ustadz mencontohkan Iblis yang memiliki ilmu tinggi dan menjadi imam para malaikat, namun menolak sujud kepada Nabi Adam karena merasa lebih mulia. Penolakan ini disebabkan oleh kesombongan. Iblis, seperti manusia, memiliki akal dan nafsu, sehingga ia bisa menjadi kreatif, tetapi kesombongannya membuatnya terjerumus.
- Contoh Lain: Ustadz juga menyebutkan contoh Fir’aun, Abu Jahal, dan Abu Lahab, yang meskipun mengakui kebenaran, kesombongan, kekuasaan, dan kekayaan membuat mereka menolak ajaran Allah dan Rasulullah. Hal ini berbeda dengan Abu Sufyan, yang pada akhirnya menerima Islam.
Bukti Kebesaran Allah dalam Ciptaan-Nya
Ustadz Umar Efendi mengajak jamaah untuk memperhatikan detail-detail dalam ciptaan Allah yang sering kali luput dari perhatian, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ghasyiyah: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana dia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana dia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana dia dihamparkan?”
- Unta: Unta memiliki fisik yang kuat, dapat minum dalam jumlah besar, dan menyimpan air di kantungnya dengan baik. Bahkan air di kantung unta lebih bersih dan dapat diminum oleh manusia. Unta juga memiliki naluri kuat untuk mengingat jalan pulang.
- Langit: Langit diciptakan tanpa tiang dan memiliki tujuh tingkatan. Manusia tidak dapat menembusnya, dan bahkan Malaikat Jibril pun tidak diizinkan melampaui batas tertentu. Ini menunjukkan keagungan Allah yang tak terjangkau.
- Gunung: Gunung-gunung ternyata saling terhubung satu sama lain. Contohnya, gunung-gunung di Jawa seperti Semeru dan Arjuna terhubung dengan gunung di daerah lain. Letusan Gunung Rinjani pada 1800-an bahkan memiliki dampak global, menyebabkan dua tahun tanpa hujan di Jerman. Ini menunjukkan keterkaitan alam semesta.
- Bumi: Bumi yang kita pijak juga memiliki lapisan-lapisan. Ustadz mengingatkan bagaimana dahulu orang harus berjalan jauh untuk sampai ke suatu tempat, sementara kini kita bisa melakukan perjalanan dengan mudah.
Tugas Manusia dan Tanggung Jawab Diri
Ustadz Umar Efendi menyimpulkan bahwa setelah merenungkan kebesaran Allah, tugas manusia hanyalah memberikan peringatan kepada orang-orang sombong yang menolak ajaran-Nya. Ia juga mengutip ayat yang menyebutkan bahwa pergantian siang dan malam adalah tanda bagi orang-orang yang cerdas.
Orang yang cerdas adalah mereka yang selalu mengingat Allah dalam setiap aktivitas, termasuk saat memegang jabatan politik atau kekuasaan. Mengingat Allah akan menjaga seseorang dari korupsi, keserakahan, dan pengkhianatan. Ia menutup ceramah dengan menekankan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. (*)
Penulis: Fim