MALANG, JATIMLINES.ID – Pikiran manusia ibarat burung, ia akan mati jika dikurung dalam sangkar dogma. Di era yang mengklaim diri sebagai zaman kebebasan, mengapa kita masih takut berpikir? Kegelisahan ini bukan sekadar masalah pribadi, tapi cermin dari masyarakat yang menjadikan keseragaman sebagai agama.
Kebebasan berpikir bukan hanya hak individual namun kewajiban untuk menjaga nyala akal sehat peradaban.
Sejarah Penindasan Pemikiran
Sejarah manusia adalah sejarah penindasan pikiran. Socrates dipaksa minum racun karena “meracuni pemuda” dengan pertanyaan yang kritis. Galileo dihukum dan seumur hidup karena mengatakan bumi mengelilingi matahari. Ironisnya, kita memuja para pemikir ini di museum, tapi membungkam suara kritis di kehidupan nyata.

“Mengapa manusia yang bangga pada akal justru membangun penjara untuk pikiran mereka sendiri?” Frustrasi saya bukan pada masa lalu, tapi pada pola yang terus berulang.
Setiap kali seseorang berbeda pendapat, stigma “sesat”, “liberal”, atau “anti-nasionalis” maka akan diludahi. Kita menjadikan ketakutan sebagai senjata, padahal sejarah membuktikan: kebenaran seringkali lahir dari suara yang awalnya dianggap salah, bukan?
Kebebasan Bukan Kekacauan
Generasi muda diajari untuk menghafal, bukan bertanya. Di sekolah, pertanyaan “kenapa?” sering dianggap mengganggu. Di tempat kerja, ide kreatif dihambat dengan kalimat, “Biasakan ikut prosedur yang ada.”
Lalu, bagaimana kita bisa memecahkan persoalan hantu yang tidak terlihat, menemukan serigala berbulu domba, krisis iklim, ketimpangan sosial, atau pandemi berikutnya jika semua orang hanya mengulang dogma lama.

Skeptis terhadap kebebasan berpikir sering muncul dari ketakutan akan kekacauan. “Jika semua orang bebas berpikir, bagaimana menjaga keteraturan?”
Namun kebebasan bukan berarti tanpa batas. Justru, kebebasan sejati yang mensyaratkan sebuah batasan dan tanggung jawab.
Kesimpulan
Menjadi manusia seutuhnya berarti berani berpikir, bahkan jika itu membuat kita tidak nyaman. Kebebasan berpikir adalah kewajiban karena tanpa itu, kita mengkhianati potensi tertinggi yaitu kemampuan untuk merefleksikan, memperbaiki, dan melampaui diri sendiri.
Mari jadikan setiap diskusi sebagai ruang tumbuhnya ide-ide liar yang mungkin, suatu hari nanti, menyelamatkan dunia. Seperti kata Einstein: “Pikiran yang terbuka adalah pikiran yang siap berkembang.”

Peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang patuh, tapi oleh para pemberontak yang berani menantang batas pikiran.
Penulis: Em Nugraha
Editor: Nana