BERITA

Ukuran Sekolah Berhasil Bukan Dokumen Tebal, Tapi Murid Yang Berkarakter dan Berkompeten.

jatimlines1 Diperbarui 14:30 4 menit membaca
Ukuran Teks:
SUB : PLT KADISDIK BATU TEGAS: Akreditasi Bukan Lomba Cantik – Cantik Dokumen!

Batu, Jatimlines.id – Satu ruangan penuh. Isinya kepala sekolah dan guru SD se-Kota Batu. Mereka tidak sedang rapat biasa. Mereka sedang bersiap menghadapi “Asesmen Kinerja Jenjang Sekolah Dasar 2026”. Pendampingan besar-besaran itu digelar di Hotel Horison, Jl. Trunojoyo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Kamis, (3/9/2026).

Tujuannya satu, memastikan setiap SD di Kota Batu layak, siap, dan bermutu saat akreditasi nanti.

Bukan Sekadar Urus Dokumen

Pendampingan ini bukan untuk mengajarkan cara menebalkan map. Fokus utamanya jelas, menilai layanan, memastikan kelayakan, dan memacu transformasi pendidikan, di tingkat SD.

Foto: Plt. Kepada Dinas Pendidikan Kota Batu, Muhammad Nur Adim, A.P., M.AP., saat menyampaikan sambutannya, di hadapan Kepala Sekolah dan guru.

Artinya, asesor dan tim pendamping akan melihat langsung, bagaimana guru mengajar, bagaimana kepala sekolah mengelola, dan bagaimana murid merasakan dampaknya.

“Ini bukan sekadar mengejar predikat. Ini soal memastikan layanan pendidikan di setiap SD benar-benar berjalan,” tutur, plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Muhammad Nur Adim, A.P., M.AP.

Target 2026: Semua SD Harus Siap.

2026 adalah tahun penentuan. Semua SD wajib mengikuti Asesmen Kinerja. Karena itu, Dinas Pendidikan Kota Batu, tidak mau kecolongan.

Melalui pendampingan ini, setiap kepala sekolah dan guru dibekali pemahaman baru. Bahwa akreditasi adalah cermin. Cermin untuk melihat diri sendiri: sudah sejauh mana kita melayani anak.

Lokasi Strategis: Bicara Mutu di Kota Wisata

Di tengah kota wisata, para pendidik diajak berpikir besar. Bahwa mutu pendidikan di Batu juga harus setara dengan nama besar Kota Batu sebagai destinasi pendidikan dan pariwisata.

Ruangan pertemuan menjadi ruang refleksi. Dari mulai perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga tindak lanjut. Semua dibahas tuntas.

Akreditasi Adalah Janji ke murid.

Akreditasi bukan untuk asesor. Akreditasi bukan untuk piagam. Akreditasi adalah, janji sekolah kepada muridnya, bahwa mereka berhak mendapat layanan pendidikan terbaik.

Dengan pendampingan ini, Dinas Pendidikan Kota Batu berharap tidak ada lagi SD yang gagap menghadapi asesmen. Tidak ada lagi guru yang baru panik saat H-1.

Karena pada akhirnya, sekolah yang hebat akan melahirkan murid – murid yang hebat. Dan itu dimulai dari kesiapan kita hari ini.

Terkait pelaksanaan akreditasi sekolah. Baginya, akreditasi bukan ajang lomba administrasi. Bukan juga sekadar mengejar predikat A, B, atau C.

“Saya tidak ingin sekolah hanya sibuk menyiapkan, dan mempercantik dokumen ketika akreditasi akan dilaksanakan,” tegasnya.

Menurutnya, akreditasi bukan soal map, tapi soal murid. Menurut Plt Kadisdik, akreditasi adalah, bagian penting dalam penjaminan mutu pendidikan.

Oleh karena itu, bukan menghitung jumlah berkas. Tapi mengukur, sejauh mana proses pendidikan benar-benar berjalan dan memberi dampak kepada murid.

“Melalui akreditasi, kita tidak hanya melihat kelengkapan administrasi sekolah, tetapi menilai sejauh mana proses pendidikan benar-benar berjalan dengan baik,” ujarnya.

Karena itu, akreditasi harus jadi momentum refleksi.
Pertanyaannya sederhana, apakah layanan pendidikan yang kita berikan hari ini sudah benar-benar bermutu, dan dirasakan manfaatnya oleh murid-murid kita?

Yang Dinilai, Praktik Nyata, Bukan Teori di Kertas. Dokumen penting. Tapi bukan yang utama. Yang jauh lebih penting adalah praktik di lapangan. Ada 4 hal yang disorot:

  1. Bagaimana guru mengajar.
  2. Bagaimana kepala sekolah memimpin pembelajaran.
  3. Bagaimana perkembangan hasil belajar murid.
  4. Bagaimana sekolah menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan.

“Dokumen memang penting sebagai bukti, tetapi yang jauh lebih penting adalah praktik nyata di sekolah,” tandasnya.

Jadikan Akreditasi Budaya, Bukan Event

Plt Kadisdik, meminta seluruh kepala sekolah dan guru di Kota Batu mengubah mindset. Jangan jadikan akreditasi kegiatan sesaat.

Foto: pose bersama Plt. Kepada Dinas Pendidikan Kota Batu, Muhammad Nur Adim, A.P., M.AP., dengan para nara sumber

“Saya meminta seluruh kepala sekolah dan guru, menjadikan akreditasi sebagai bagian dari budaya mutu,” perintahnya.

Kendati demikian, rumusnya juga jelas, apa yang direncanakan harus dilaksanakan. Apa yang dilaksanakan harus dievaluasi. Hasil evaluasi harus ditindaklanjuti untuk perbaikan.

“Hanya dengan cara itulah, akreditasi berfungsi sebagai instrumen pendorong peningkatan kualitas. Murid Kota Batu, harus sama – sama bermutu.Target Dinas Pendidikan Kota Batu, bukan tumpukan piagam. Target terbesarnya, setiap murid Kota Batu, di sekolah manapun mereka belajar, memperoleh layanan pendidikan yang sama – sama bermutu,” ucapnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah tumpukan dokumen atau tingginya predikat akreditasi, tetapi perubahan nyata pada kualitas pembelajaran, karakter, kompetensi, dan masa depan murid – murid Kita.

“Karena sekolah hebat tidak diukur dari tebalnya dokumen. Sekolah hebat diukur dari murid – muridnya yang pulang membawa ilmu, karakter, dan masa depan,” pungkasnya, sembari penuh semangat.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan komentar