ARTIKEL

Ketika Presisi Akademik Berbenturan dengan Minimnya Apresiasi

Mochammad Ronaldi Adji Saputra Diperbarui 09:33 5 menit membaca
Ukuran Teks:

Oleh: M Ronaldi Adji Saputra, M.Pd.

(Pengajar Sejarah dan Koordinator Riset MAN 2 Kota Malang)


Kekecewaan yang belakangan ini menyeruak di ruang publik terkait minimnya bentuk penghargaan bagi para pemenang kompetisi sains tingkat nasional dari tingkat dasar hingga menengah yang menyisakan ruang refleksi yang mendalam. Isu pemangkasan insentif, ketidakpastian proses kurasi, hingga merosotnya standar apresiasi bagi siswa berprestasi bukan sekadar persoalan “nominal rupiah di dalam amplop”, melainkan gejala dari masalah yang jauh lebih mendasar tentang bagaimana negara dan lembaga pengelola memandang serta merawat ekosistem pembinaan talenta muda bangsa.

Fenomena ini rupanya tidak hanya terjadi di satu pintu. Baik ajang sains nasional utama yang dikelola kementerian pendidikan maupun kompetisi yang diadakan oleh kementerian/lembaga lainnya, kadang memperlihatkan pola serupa. Kerja keras, pengorbanan waktu, dan presisi intelektual para siswa kerap kali digantungkan pada label birokrasi seperti “proses kurasi” atau “penyesuaian anggaran”. Ketidakpastian ini menciptakan benturan keras antara presisi akademik siswa yang dibangun dengan minimnya empati tata kelola di tingkat pusat.

Pengorbanan di Balik Presisi Akademik
Sains dan keilmuan adalah disiplin yang menuntut presisi tinggi, ketekunan, dan latihan tanpa henti. Untuk mencapai level nasional, peserta harus melewati seleksi berjenjang dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, hingga provinsi, dan itu tidak bisa lahir secara instan dalam semalam. Pastinya ada ekosistem kecil yang bekerja ekstra keras di belakangnya dengan berbagai aktivitas, yaitu:

  1. Siswa mengorbankan waktu bermain, melewati ribuan jam latihan soal, dan menggembleng ketahanan mental di bawah tekanan seleksi yang ketat.
  2. Guru dan Sekolah mengalokasikan energi, merancang program pembinaan mandiri, hingga mendatangkan pelatih ahli demi menjaga standar kualitas akademik.
  3. Orang Tua melakukan investasi finansial dan emosional yang tidak sedikit untuk mendukung fasilitas serta bimbingan belajar anak.

Proses ini tentu dibutuhkan waktu yang sangat panjang untuk membina para bibit unggul dan ekosistem regenerasi intelektual. Namun, ketika proses yang presisi dan penuh dedikasi ini dihargai ala kadarnya atau bahkan mengalami penurunan kualitas bentuk apresiasi dibanding tahun-tahun sebelumnya, maka yang terjadi adalah devaluasi nilai prestasi.

Menggantungkan Masa Depan di Bawah Dinding “Kurasi”
Salah satu persoalan sistemik dalam tata kelola ajang talenta adalah bias birokrasi yang dibungkus dengan istilah teknis, seperti “proses kurasi” atau “integrasi data talenta”. Kurasi talenta idealnya berfungsi sebagai jembatan yang memberi kepastian portofolio dan jaminan akses pendidikan masa depan bagi siswa berprestasi. Sayangnya, kadang prosesnya sering kali berbalik menjadi barikade birokrasi yang membingungkan. Siswa dan sekolah kerap kali ditinggalkan dalam ketidakpastian: Apakah medali dan perjuangan mereka diakui secara terintegrasi? Apakah ada jaminan kelanjutan pembinaan? Mengapa skema apresiasi dapat berubah mendadak tanpa komunikasi publik yang transparan?


Ketika penyelenggara menuntut siswa tampil fleksibel dan adaptif terhadap standar kompetisi yang tinggi, birokrasi justru tampil kaku dan tidak komunikatif. Akibatnya, marwah dan wibawa ajang resmi pemerintah itu sendiri yang perlahan tergerus di mata komunitas pendidikan.

Paradoks Manajemen Talenta
Pemerintah secara gencar mengampanyekan narasi besar penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul menuju masa depan bangsa. Penguatan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) serta pendidikan karakter berbasis prestasi selalu disebut sebagai pilar utama.


Namun, kebijakan penanganan ajang kompetisi murid ini menciptakan paradoks. Ekosistem menuntut output SDM kelas dunia, tetapi mengelola iklim kompetisinya dengan sudut pandang efisiensi yang tidak proporsional.

Jika atmosfer kompetitif yang sehat tidak dirawat dengan apresiasi yang layak, baik berupa insentif yang adil, jaminan beasiswa berkelanjutan, maupun kepastian jalur pendidikan, maka ekosistem ini akan mengalami degradasi. Sekolah-sekolah terbaik dan siswa berbakat bisa kehilangan motivasi untuk berpartisipasi dalam ajang resmi pemerintah, lalu beralih ke ajang swasta atau luar negeri yang lebih menghargai proses mereka.

Reorientasi: Mengembalikan Apresiasi sebagai Investasi
Ada sebuah peribahasa dari bahasa Prancis yang mengingatkan kita, yaitu “De tous les portefaix, le meilleur est l’amour” yang diterjemahkan “dari semua yang mampu memikul beban, yang terbaik adalah cinta.”

Dalam ekosistem pendidikan kita, “cinta” itu berupa ketulusan belajar para siswa, dedikasi tanpa pamrih para guru pendamping, serta pengorbanan orang tua itu adalah daya utama yang mampu memikul beban beratnya perjalanan akademis hingga puncak prestasi. Namun, negara dan penyelenggara tidak boleh menunggangi ketulusan itu demi membenarkan ketidakmampuan memberikan apresiasi yang layak dengan berbagai macam dalih seperti efisiensi. Cinta pada ilmu pengetahuan tidak boleh dijadikan alasan untuk mewajarkan pengabaian hak-hak anak bangsa yang telah berjuang.

Setidaknya ada tiga langkah untuk memulihkan ekosistem talenta nasional:

  1. Transparansi dan Prioritas Anggaran: Lembaga penyelenggara harus memprioritaskan alokasi anggaran operasionalnya langsung pada hak dan kebutuhan apresiasi peserta, bukan habis di ranah seremonial.
  2. Kejelasan dan Integrasi Kurasi: Sistem kurasi harus berjalan transparan, terukur, dan berdampak nyata. Setiap pemenang tingkat nasional harus mengantongi jaminan portofolio yang otomatis terhubung dengan akses beasiswa atau kepastian jalur pendidikan jenjang berikutnya.
  3. Dialog Terbuka dengan Komunitas Pendidikan: Pemangku kebijakan perlu membuka ruang dengar pendapat bersama para pendamping, guru, dan pengamat agar regulasi kompetisi disusun berdasarkan realita di lapangan.

Menghargai siswa berprestasi hari ini bukanlah bentuk pemborosan anggaran, melainkan bentuk investasi paling nyata bagi masa depan bangsa. Jangan sampai presisi akademik anak-anak bangsa yang sedang bertumbuh runtuh hanya karena ketidakmampuan kita dalam merawat dan menghargai “cinta” yang telah mereka investasikan untuk negeri ini.

Tinggalkan komentar