SUB : ATS MASIH BANYAK DI BATU! PKBM Sangat Berharap ke RT, PKK, Desa Gerilya Bersama Selamatkan Generasi.
Batu, Jatimlines.id – Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.Siti Nur Aisyah Ernawati, Kepala PKBM Taman Krida Dewasa Kota Batu, tidak sanggup membayangkan ada anak di kotanya yang putus sekolah.
“Aku mengeluh dan menangis apabila di Kota Batu, ada anak yang putus sekolah. Artinya aku gagal,” ucapnya lirih, Kamis, (27/8/2026).

Bagi perempuan ini, pendidikan bukan soal ijazah. Ini soal masa depan. Soal menyelamatkan satu nyawa dari jalan yang salah.
Gerilya Door to Door Cari Anak ATS. Tugas itu tidak mudah.
Di Kota Batu, jumlah ATS (Anak Tidak Sekolah), masih banyak. Tim PKBM Taman Krida Dewasa tidak menunggu di kelas. Mereka turun ke jalan.
“Sampai para tutor kami ajak gerilya door to door. Kita telusuri. Kita lengkapi data mulai kartu keluarga, akta kelahiran, ijazah,” jelas Siti Nur Aisyah.
Ada yang datang mendaftar sendiri. Ada yang dapat info dari desa. Ada juga yang disalurkan Dinas Pemberdayaan.
Tapi perjuangan belum selesai di situ.
“Mereka ada yang mau sekolah, setelah itu tiba-tiba tidak aktif. Ada yang aktif terus menghilang saat TKA, (Tes Kemampuan Akademik). Nah, sekarang kita lagi gerilya lagi untuk memotivasi kembali,”katanya.

Tembok Terbesar, Menikah, Bekerja, dan “Gak Mau” Apa yang membuat mereka berhenti lagi?
Jawabannya pahit, Menikah. Ikut pasangan. Sudah bekerja. Atau alasan paling sederhana “gak mau lah”. Padahal orang tuanya ingin anaknya lanjut.
“Akhirnya kami out-kan mereka yang memang sudah tidak semangat lagi sekolah dari Dapodik kita,”ujarnya dengan berat.
Tapi Siti tidak menyerah. Ia meminta tolong seluruh kota untuk bergerak.
“Harapanku banyak pihak saling support. RT, PKK menyisir anak ATS. Praktisi pendidikan, Dinas Pendidikan. Pihak desa, kecamatan, sampai Pemerintah Kota. Mari kita gerilya bersama, kita motivasi bersama agar mereka mau sekolah,” ajaknya.
“Aku Tidak Pernah Memilih Murid”
Di PKBM Taman Krida Dewasa, tidak ada kata “anak buangan”. Siti dan timnya menerima siapa saja.

“Aku menangani anak korban bullying. Alhamdulillah sekarang ada yang mau sekolah lagi dengan segala metode belajar,”katanya bangga.
Ia juga menerima murid DO, Drop Out, dengan latar belakang paling kelam.
“Ada muridku DO karena korban perceraian orang tuanya. Ada yang DO karena pernikahan dini, terpaksa menikah. Ada juga yang DO karena berbuat kejahatan, mulai pencurian sampai penganiayaan,” ceritanya.
Tapi di ruang kelas PKBM, semua lembaran baru dimulai.
“Semoga setelah gabung sekolah dengan kita dan lulus, mereka menjadi pribadi yang lebih baik,” harapnya.
Sekolah adalah Hak, Bukan Pilihan
Tangis Siti Nur Aisyah, bukan tangis lemah. Itu tangis seorang ibu. Ia membuktikan bahwa sekolah alternatif bisa jadi rumah terakhir bagi anak-anak, yang ditolak sistem.
“Karena bagi PKBM Taman Krida Dewasa, setiap anak berhak dapat kesempatan kedua. Dan setiap kesempatan itu, harus dikejar. Bahkan sampai ke depan pintu rumahnya,” pungkasnya.
Penulis : Akasa Putra.
Editor : Akasa Putra.