PASURUAN — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh ketidakpastian, pesan spiritual dari Ustadz Mustaqim Ismail di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, pada Jum’at, 29 Agustus 2025, terasa menenangkan. Dalam khutbahnya, Ustadz Mustaqim mengingatkan para jamaah tentang sebuah keyakinan fundamental yang seharusnya menjadi pegangan hidup, bahwa setiap perbuatan, baik maupun buruk, adalah energi yang tidak akan pernah hilang, melainkan akan kembali kepada pelakunya.

Gagasan ini berakar kuat pada ajaran Al-Qur’an, khususnya Surah Az-Zalzalah. Ayat 6 hingga 8 dari surah tersebut, yang dikutip dalam khutbah, menjadi landasan utama. Allah SWT berfirman bahwa di hari kiamat, manusia akan keluar dalam keadaan berkelompok untuk diperlihatkan balasan dari setiap perbuatannya.

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya,” demikian pesan tegas dari ayat-ayat tersebut.

Ustadz Mustaqim menganalogikan prinsip ini dengan teori energi: energi tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk. Dengan demikian, jika seseorang menyebarkan energi positif melalui kebaikan, ia akan menerima kembali energi positif tersebut. Sebaliknya, energi negatif dari keburukan akan kembali pula kepada dirinya.

Pesan ini mendorong umat untuk tidak pernah ragu berbuat baik, karena setiap tetes kebaikan yang ditanam tidak akan pernah sia-sia. Masalahnya hanya pada waktu; ada yang balasan kebaikannya datang segera di dunia, namun banyak pula yang akan menunggu hingga hari akhirat, di mana balasan tersebut akan dilipatgandakan.

Lebih lanjut, Ustadz Mustaqim menyoroti amalan sedekah sebagai salah satu bentuk kebajikan yang paling nyata. Sedekah, menurutnya, bukan hanya sekadar amalan berbagi, tetapi juga sebuah perisai yang dapat mengurangi musibah dan mendatangkan keselamatan. Dengan bersedekah, seorang hamba juga akan mendapatkan pertolongan dari Allah, sejalan dengan janji-Nya bahwa Dia akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong sesamanya.

Poin penting lainnya yang disinggung adalah keikhlasan dalam bersedekah. Mengutip Surah Al-Baqarah, Ustadz Mustaqim menekankan bahwa sedekah yang paling sempurna adalah yang tidak diiringi dengan mengungkit-ungkit atau menyakiti perasaan si penerima. Bagi mereka yang melakukannya, Allah menjanjikan pahala yang besar, serta menghilangkan rasa cemas dan takut.

Khutbah ini menjadi pengingat yang kuat di tengah realitas sosial saat ini, di mana rasa cemas dan ketakutan sering membayangi masyarakat, entah itu karena masalah pribadi atau musibah yang melanda. Ustadz Mustaqim mengajak jamaah untuk menghadapi tantangan ini dengan memperbanyak kebajikan, khususnya melalui sedekah. Pesannya sederhana namun mendalam: dengan menabur kebaikan, kita tidak hanya menabung pahala di akhirat, tetapi juga membangun benteng ketenangan dan keselamatan bagi diri kita sendiri di dunia.

Singkatnya, khutbah Ustadz Mustaqim Ismail adalah sebuah seruan untuk kembali pada esensi ajaran agama: setiap perbuatan adalah investasi. Baik investasi kebaikan yang akan mendatangkan ketenangan dan keselamatan, maupun investasi keburukan yang akan membawa kegelisahan. Energi positif dari kebaikan yang kita sebarkan pada hakikatnya adalah jalan termudah untuk menghilangkan kecemasan, rasa takut, dan berbagai musibah yang ada. (*)

Penulis: Fim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Selamat Hari Raya
Selamat Hari Raya Idul Fitri