Beranda / PENDIDIKAN / Esjosa Berbudi Ciptakan Karakter Unggul

Esjosa Berbudi Ciptakan Karakter Unggul

Batu, Jatimlines.id – Pendidikan karakter merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan pentingnya pembentukan karakter peserta didik melalui pengembangan potensi, akhlak mulia, dan kepribadian.

Namun, implementasinya di lapangan, khususnya di Provinsi Jawa Timur, masih menghadapi berbagai tantangan antara lain; Kesenjangan Implementasi Kurikulum Karakter. Pengaruh negatif media dan teknologi. Krisisnya moral dalam masyarakat. Kurangnya peran keluarga dalam membangun karakter anak. Kurangnya Inovasi dan Kolaborasi Antar lembaga. Evaluasi dan Pengukuran yang Kurang Komprehensif.

Pembiasaan karakter SDN Sumberejo 01 (Esjosa), sehingga dijadikan satu dalam inovasi Esjosa Berbudi (SDN Sumberejo 01 Berkebun Budi Pekerti), yang berasal dari pembiasaan karakter sholat duha dan wajib, tari, drumband, karate, istigotsah, upacara bendera, olahraga dengan output supaya peserta didik Esjosa lulus dari sini bisa memiliki dan membelajarkan mereka akhlakul karimah dan bisa memimpin tahlil dalam masyarakat kelak

“Lima aspek pentingnya pendidikan karakter di Indonesia yang sangat relevan untuk membentuk generasi unggul dan berakhlak mulia; Membentuk Kepribadian dan Moral yang Kuat. Pendidikan karakter membantu siswa tumbuh dengan nilai-nilai seperti jujur, tanggung jawab, dan disiplin, yang menjadi fondasi moral dalam kehidupan bermasyarakat,” tutur, Kepala Esjosa, Puji Maliki S.Pd.I M.Pd, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, lanjut Puji Maliki, dapat menanamkan nilai – nilai kebangsaan. Melalui pendidikan karakter, anak diajarkan cinta tanah air, toleransi, dan semangat kebhinekaan, yang penting untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

“Mengatasi krisis moral dan sosial, diera digital dan globalisasi, pendidikan karakter menjadi benteng untuk mencegah perilaku negatif seperti bullying, intoleransi, dan radikalisme. Mempersiapkan generasi tangguh dan berdaya saing. Karakter seperti kerja keras, pantang menyerah, dan mandiri sangat penting agar anak Indonesia siap menghadapi tantangan zaman. Mendukung pembentukan lingkungan belajar yang Positif,” ucapnya, sembari ramah.

Meskipun demikian, baik dari peserta didik menciptakan suasana sekolah yang harmonis, saling menghargai, dan kondusif untuk proses pembelajaran.

“Kota Batu, yang dikenal sebagai kota agrowisata, memiliki tantangan tersendiri dalam penguatan pendidikan karakter di tengah dinamika sosial dan budaya yang berkembang termasuk di lingkungan Esjosa. Meskipun memiliki berbagai kemajuan dalam infrastruktur dan pariwisata, perhatian terhadap pembangunan karakter anak – anak dan remaja belum sepenuhnya optimal di tingkat satuan pendidikan,” tandasnya

Kondisi setelah penerapan inovasi

Guru senior ini menjelaskan, kondisi setelah adanya inovasi data domain karakter dari data tahun 2024 ke tahun 2025 naik 10,85% dari 52.55 menjadi 63.4% peringkat atas kota (1-20%) dan peringkat atas (1-20%) nasional dan iklim keamanan sekolah dari tahun 2024 ke 2025 naik 9,43% dari 62 menjadi 71.43%.

Peringkat menengah bawah (61-80%) kota dan peringkat menengah bawah (41-60%) mengalami peningkatan keteraturan dalam beribadah, peningkatan kedisiplinan dan percaya diri, adanya kerjasama dan saling menghargai.

“Kondisi setelah adanya inovasi secara umum warga sekolah menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap tugas – tugas yang diberikan. Budaya saling menghargai satu sama lain meningkat,” jelasnya, penuh semangat.

Kendati demikian, keunggulan kebaharuan metode pembelajaran kontekstual dan realistis berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas yang cenderung teoritis, inovasi ini memberikan pengalaman nyata melalui simulasi kehidupan dalam perkemahan. Peserta tidak hanya menghafal nilai budi pekerti, tetapi mempraktikkannya secara langsung dalam interaksi sosial dan kemandirian.

Pembiasaan siswa Esjosa dan warga sekolah saat menjalankan salat duha dan salat duhur berjamaah

Keunggulan utama terletak pada aspek pembiasaan setiap hari. Dengan mengintegrasikan tata kehidupan sehari – hari ke dalam struktur kegiatan, inovasi ini efektif dalam mengubah perilaku (behavioral change) dari sekadar aktivitas insidental menjadi sebuah budaya atau gaya hidup. Inovasi ini tidak berjalan secara eksklusif, melainkan melibatkan mitra strategis dan stakeholder. Hal ini memberikan beberapa keuntungan.

“Validitas Materi; Materi yang diberikan lebih relevan dengan kebutuhan dunia nyata. Dukungan Sumber Daya; Memperluas akses fasilitas, pendanaan, maupun tenaga ahli. Jejaring; Peserta mendapatkan wawasan langsung dari praktisi atau tokoh masyarakat yang terlibat,” ujarnya

Penguatan Karakter Melalui Kepramukaan

Mengambil basis kegiatan perkemahan secara otomatis mengasah nilai-nilai. Kedisiplinan; Ketepatan waktu dan ketaatan pada aturan. Resiliensi; Ketangguhan dalam menghadapi keterbatasan fasilitas di alam terbuka.Gotong Royong; Kerja sama tim dalam menyelesaikan tugas kelompok (memasak, mendirikan tenda, dll).

“Karena target akhirnya adalah menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari, inovasi ini memiliki dampak jangka panjang. Peserta tidak hanya “baik” saat berkemah, tetapi membawa pulang standar etika dan kemandirian tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat,” tandas

Tahapan Pengembangan Karakter Melalui Budi Pekerti

Tahap Persiapan; Tahap Perencanaan dan Sosialisasi. Pembentukan Tim Kerja. Penyusunan Kurikulum Karakter. Sosialisasi Orang Tua. Tahap Pelaksanaan; Pembiasaan nilai – nilai dasar (Usia Sekolah Dasa) Menanamkan nilai-nilai moral dasar seperti jujur sopan, peduli, dan disiplin.

Tampak kompak guru dan siswa Esjosa Berbudi

“Memberi contoh nyata dari guru/orangtua (modeling). Menyanyikan lagu-lagu bertema moral. Menyusun jadwal harian dengan aturan dan rutinitas. Mendongeng cerita rakyat atau kisah tokoh inspiratif. Reward sederhana untuk perilaku baik (pujian, stiker),” cetusnya.

Lebih jauh, Puji Maliki sampaikan, menumbuhkan karakter. Tahap Pembiasaan; peserta didik diajak mengenal tanaman dan rutinitas menyiram setiap hari. Disinilah tumbuh rasa tanggung jawab dan disiplin.

Tahap Pemahaman; Mereka mulai berdiskusi, mengapa tanaman perlu dirawat? Di sinilah nilai kepedulian dan kerja sama berkembang.

Tahap Internalisasi; Anak-anak mulai mengambil inisiatif, berbagi tugas, bahkan memberi contoh kepada teman.

Tahap Konsistensi; Mereka tidak hanya berkebun, tapi menjadi agen perubahan kecil di lingkungan sekolah sampai dengan menularkan semangat cinta alam dan budi pekerti.

“Tujuan Inovasi Daerah, Meningkatkan domain karakter siswa di Esjosa yang masih rendah dengan indikator rapot pendidikan. Menambahkan kurikulum pendidikan karakter di Esjosa. Menurunkan terjadinya aksi bullying di Esjosa. Mengembalikan Budaya 5S (Senyum Sapa Salam Sopan Santun) di Esjosa. Meningkatkan koordinasi antara stakeholder terkait pendidikan karakter di Esjosa. Memaksimalkan evaluasi dan pengukuran karakter peserta didik di Esjosa, melalui inovasi Esjosa Berbudi,” bebernya.

Manfaat Yang Diperoleh

Maksimalnya evaluasi dan pengukuran karakter peserta didik di Esjosa melalui inovasi Esjosa Berbudi. Dari inovasi yang dilaksanakan diperoleh hasil sebagai berikut ; adanya perubahan capaian dari 10,85% menjadi 63,4 pada indikator karakter dan kenaikan 9,43% menjadi 71,43 pada indikator iklim keamanan sekolah, keteraturan dalam beribadah, Keunggulan kebaharuan metode pembelajaran kontekstual dan realistis, penurunan bullying, peningkatan kedisiplinan dan percaya diri serta adanya kerjasama dan saling menghargai diantara warga sekolah

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *