Oleh: Eko Windarto
Di era digital, ancaman radikalisme tak lagi melulu hadir melalui ruang fisik atau tradisional. Kisah mengingatkan dari Tulungagung, di mana seorang siswa SD terpapar kelompok teroris lewat game online dan media sosial, menjadi peringatan keras bagi kita semua. Namun, jangan khawatir—dengan penanganan yang tepat dan pendekatan modern melalui e-sport, harapan muncul untuk memulihkan masa depan anak-anak kita.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa sebuah permainan yang kita anggap hanya sebagai hiburan ringan bisa berubah menjadi sarana penyebaran ide radikal yang menakutkan? Di Tulungagung, suatu kisah nyata membuka mata kita tentang bahayanya paparan kelompok teroris terhadap anak-anak, yang kini tak saja melalui ceramah-ceramah tersembunyi, tetapi juga melalui game populer seperti Mobile Legends, Free Fire, hingga Roblox.
Dunia Maya: Ladang Subur bagi Paparan Radikalisme
Paparan radikal yang menyebar lewat platform game online ini memang tidak diduga banyak orang. Grup Telegram khusus yang tersembunyi di balik gemerlap kompetisi digital menjadi sarana baru perekrutan mereka. Anak kelas 6 SD itu menjadi korban rekrutmen yang mengerikan—setidaknya sampai tim UPT PPA (Unit Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) turun tangan.
Menurut seorang psikolog dari UPT PPA, anak-anak di usia itu sangat rentan, karena otak mereka masih dalam tahap pertumbuhan yang cepat dan belum cukup mampu membedakan mana informasi yang sehat dan berbahaya di dunia maya. Para pelaku radikal memanfaatkan ini, mengemas ide-ide mereka menggunakan bahasa yang mudah dicerna anak-anak, bahkan menyisipkan narasi heroik dalam setiap pesan mereka.
Program Deradikalisasi: Dari Kegelapan Menuju Cahaya
Berita baiknya, anak tersebut berhasil diselamatkan dan sejak Desember 2025 menjalani program deradikalisasi yang diadaptasi dengan pendekatan masa kini. Pendampingan psikolog tidak hanya membebaskan pikiran anak itu dari ide radikal, tetapi juga mengarahkan bakatnya yang tertanam di dunia game online ke jalur yang jauh lebih positif.
Apa yang menarik, penggerebekan mental tidak dilakukan dengan cara yang kaku dan mengecam, melainkan melalui pengenalan dan pembinaan di bidang e-sport. Organisasi-organisasi e-sport yang sudah mengakar di berbagai daerah kini merangkul anak-anak seperti dia. Dengan bergabung dalam komunitas yang sehat dan kompetitif, bakat bermain game dioptimalkan untuk hal-hal positif, seperti berkompetisi secara sportif, belajar strategi, dan menumbuhkan kepercayaan diri.
Media Sosial dan Game: Pedang Bermata Dua
Kasus di Tulungagung ini menyiratkan bahwa media sosial dan game online adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka mendekatkan dunia dan mengembangkan kreativitas; di sisi lain, mereka menjadi lahan subur bagi penyebaran ide negatif bila tidak diawasi dengan baik. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa selama 2024, kasus penyebaran konten radikal melalui internet meningkat hingga 15%, dengan anak-anak menjadi salah satu korban utama.
Refleksi dan Tindakan Kita Bersama
Sebagai orang tua, pendidik, maupun masyarakat luas, kita perlu lebih waspada dan peka terhadap lingkungan digital anak-anak. Langkah-langkah sederhana seperti mengenal apa saja game yang mereka mainkan, aktif berdiskusi soal konten yang mereka terima, serta bersama-sama mencari wadah positif seperti komunitas e-sport dapat menjadi benteng pertama menghadapi masuknya ide-ide berbahaya.
Tak hanya itu, pemerintah dan organisasi komunitas juga harus terus meningkatkan program deradikalisasi yang tak lagi tembak langsung ke radikalis, melainkan menyinari pikiran dengan kasih sayang, pembinaan, dan memanfaatkan minat anak sebagai gerbang perubahan.
Penutup: Masa Depan Anak-Anak Ada di Tangan Kita
Kisah Tulungagung adalah peringatan sekaligus harapan. Bahwa walaupun dunia maya penuh dengan tantangan dan jebakan, dengan kerja sama, perhatian, dan pendekatan yang tepat, kita bisa membawa anak-anak keluar dari gelap menuju terang. Dalam dunia yang semakin digital ini, mari kita jadikan teknologi sebagai alat pembebasan, bukan penjara ideologi yang sempit.
Mari kita saling berbagi cerita dan strategi agar semakin banyak orang sadar: dunia anak-anak kita sekarang dan masa depan mereka adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan biarkan mereka terjebak dalam jebakan maya yang mengaburkan masa depan.
Sekar Putih, 15/5/2026
Sumber Referensi:
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2024
Wawancara dengan Psikolog UPT PPA Tulungagung, 2025
Laporan Organisasi E-sport Indonesia, 2025





