BERITA

Lima Inovasi Guru SDN Songgokerto 01 Kota Batu, Ubah Wajah Pembelajaran: Dari Numerasi, Literasi, Hingga Kepedulian Lingkungan

jatimlines1 · · Diterbitkan 19:19 · 5 menit membaca
Ukuran Teks:

Batu, Jatimlines.id – Semangat berinovasi terus tumbuh, di lingkungan SDN Songgokerto 01 Kota Batu. Berbagai tantangan pembelajaran dijawab melalui lima inovasi karya guru, yang mampu menghadirkan pembelajaran lebih bermakna, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik abad ke-21.

    Lima inovasi tersebut yaitu diantaranya; AKU PIRAL, HICER SHANUM (Hitung Cerdas Sehari-hari dengan Numerasi), SICIKAL BERTAMASA, GELIS BATUSTA (Gerakan Literasi Sekolah Baca, Tulis, dan Cerita), serta SAHARI SABUSA (Satu Hari Satu Ide, Satu Bulan Satu Karya).

    Kelima inovasi tersebut, lahir dari kepedulian para guru terhadap kebutuhan peserta didik dan telah memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran, karakter, kreativitas, literasi, numerasi, hingga kepedulian terhadap lingkungan.

    AKU PIRAL: Belajar Dari Lingkungan, Bertumbuh Bersama Kearifan Lokal

    Inovasi AKU PIRAL yang diinisiasi oleh Kepala SDN Songgokerto 01, Muliati SPd, mengubah lingkungan sekolah menjadi ruang belajar yang kaya pengalaman. Melalui program ini, peserta didik diajak memanfaatkan aset sekolah dan potensi lokal sebagai sumber belajar utama.

    Foto: Pembiasaan siswa SDN Songgokerto 01, Kota Batu

    Hasil implementasi menunjukkan pemanfaatan aset sekolah sebagai sumber belajar meningkat 65 persen. Pembelajaran yang sebelumnya didominasi aktivitas di dalam kelas menurun 20 persen, sehingga kejenuhan siswa berkurang dan motivasi belajar meningkat.

    Menariknya, gawai tidak lagi sekadar digunakan sebagai media hiburan, tetapi beralih fungsi menjadi alat riset, dokumentasi, dan penunjang pembelajaran.

    Melalui kegiatan Rabu Kreasi, potensi peserta didik dalam mengembangkan kearifan lokal Songgokerto 01 meningkat hingga 75 persen. Selain itu, keterlibatan orang tua dan masyarakat sebagai mentor serta narasumber rutin meningkat 50 persen, menciptakan ekosistem pendidikan yang kolaboratif.

    “Sekolah tidak boleh menjadi satu-satunya tempat belajar. Lingkungan sekitar adalah laboratorium kehidupan yang mampu membentuk karakter, kreativitas, dan kepedulian peserta didik. Melalui AKU PIRAL, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan nyata,” tutur Kepala SDN Songgokerto 01, Muliati SPd, Rabu (22/7/2026).

    HICER SHANUM: Numerasi Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

    Inovasi HICER SHANUM yang dikembangkan oleh Rima Setyawati SPd.SD. Guru Kelas V, menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran numerasi. Konsep berhitung tidak lagi hanya diajarkan di kelas, melainkan dipraktikkan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

    Sebelum program berjalan, hanya sekitar 35 persen peserta didik yang mampu menerapkan numerasi dalam kehidupan sehari-hari. Setelah implementasi HICER SHANUM, angka tersebut meningkat menjadi 78 persen. Aktivitas numerasi kini hadir di kantin, koperasi, kegiatan pramuka, upacara, hingga berbagai kegiatan sekolah lainnya.

    Menurutnya, program ini juga meningkatkan profesionalisme guru. Sebanyak 85 persen guru telah menggunakan data hasil belajar sebagai dasar evaluasi pembelajaran, sementara 80 persen rutin melakukan refleksi pembelajaran. Pemanfaatan teknologi meningkat pesat, dari 20 persen menjadi 70 persen pada guru, sedangkan keterpaparan peserta didik terhadap pembelajaran berbasis digital meningkat menjadi 75 persen.

    Pendekatan pembelajaran diferensiatif yang diterapkan berhasil menurunkan jumlah peserta didik yang mengalami kesulitan numerasi dari 40 persen menjadi 18 persen. Keterlibatan orang tua dalam pembiasaan numerasi di rumah juga meningkat dari 28 persen menjadi 72 persen.

    “Numerasi akan lebih bermakna ketika menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Anak-anak belajar berhitung melalui pengalaman nyata, bukan sekadar mengerjakan soal. Itulah yang membuat mereka lebih percaya diri dan mampu menerapkan numerasi dalam kehidupan,” ucap Rima Setyawati, Guru Kelas V ini yang sekaligus penggagas HICER SHANUM.

    SICIKAL BERTAMASA: Menanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini

    Kesadaran menjaga lingkungan dibangun melalui inovasi SICIKAL BERTAMASA yang diinisiasi oleh Widyawati SPd.SD. Guru Kelas VI.

    Program ini berhasil membentuk karakter peduli lingkungan pada 85 persen peserta didik. Sebanyak 90 persen sampah di sekolah kini telah dipilah sesuai jenisnya. Peserta didik juga memperoleh keterampilan membuat komposter dari galon bekas, dan mengolah sampah organik melalui kegiatan edukasi rutin setiap minggu.

    Foto: Pose bersama, lima guru inovasi SDN Songgokerto 01, Kota Batu.

    Keberhasilan program diperkuat melalui kerja sama SDN Songgokerto 01 dengan Bank Sampah Songgokerto, sehingga pembelajaran lingkungan tidak hanya bersifat teori, tetapi menjadi praktik nyata yang berkelanjutan.

    “Kami ingin membentuk kebiasaan baik sejak usia dini. Ketika anak terbiasa memilah dan mengolah sampah, mereka tidak hanya menjaga sekolah tetap bersih, tetapi juga menjadi agen perubahan bagi lingkungan di rumah dan masyarakat,” jelas Widyawati.

    GELIS BATUSTA: Membaca, Menulis, dan Bercerita Menjadi Budaya Sekolah

    Budaya literasi semakin mengakar melalui inovasi GELIS BATUSTA yang digagas oleh Choirin Nisak SPd, Guru Kelas IV.

    Program ini berhasil meningkatkan kebiasaan membaca peserta didik dari sekitar 45 persen menjadi lebih dari 80 persen. Kemampuan menulis meningkat dari 40 persen menjadi 75 persen, sedangkan keterampilan bercerita naik dari 30 persen menjadi 70 persen.

    Budaya literasi yang sebelumnya belum berjalan secara konsisten, kini telah diterapkan disekitar 80 persen kelas. Pemanfaatan pojok baca dan berbagai fasilitas literasi, juga meningkat dari 45 persen menjadi sekitar 80 persen.

    “Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami, menulis, dan menyampaikan gagasan. Kami ingin setiap anak memiliki keberanian untuk berpikir, berkarya, dan berbicara dengan percaya diri,” ungkap Choirin Nisak.

    SAHARI SABUSA: Satu Ide Setiap Hari, Satu Karya Setiap Bulan

    Sementara itu, inovasi SAHARI SABUSA, yang dikembangkan oleh Nita Nurhayati SPd, Guru Kelas I, berhasil menumbuhkan budaya kreatif sejak dini melalui pembiasaan menuliskan satu ide setiap hari dan menghasilkan satu karya setiap bulan.

    Hasil implementasi menunjukkan keterlibatan peserta didik meningkat dari 45 persen menjadi 90 persen. Kemampuan mengembangkan ide meningkat dari 35 persen menjadi 85 persen, sedangkan produktivitas karya kreatif melonjak dari 25 persen menjadi 95 persen.

    Pendampingan guru meningkat menjadi 90 persen, antusiasme peserta didik mencapai 92 persen, dan budaya inovasi di lingkungan sekolah meningkat hingga 88 persen.

    “Setiap anak memiliki ide yang luar biasa. Tugas guru adalah, memberi ruang agar ide tersebut tumbuh menjadi karya. Ketika anak terbiasa berpikir dan berkarya setiap hari, kreativitas akan menjadi bagian dari karakter mereka,” kata Nita Nurhayati.

    Menjadi Inspirasi Transformasi Pendidikan

    Keberhasilan lima inovasi tersebut, menunjukkan bahwa perubahan besar dalam pendidikan dapat dimulai dari ruang kelas melalui kreativitas guru.

    Di bawah kepemimpinan Kepala SDN Songgokerto 01, Kota Batu, Muliati SPd ini, telah berhasil membangun budaya sekolah yang mengintegrasikan literasi, numerasi, kepedulian lingkungan, kreativitas, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.

    Lima inovasi ini tidak hanya meningkatkan capaian akademik peserta didik, akan tetapi juga membentuk karakter, mengembangkan keterampilan abad ke-21, serta menciptakan lingkungan belajar yang aktif, menyenangkan, dan berkelanjutan. SDN Songgokerto 01 Kota Batu.

    Membuktikan bahwa inovasi yang lahir dari guru, mampu menjadi penggerak utama dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berdampak nyata bagi masa depan generasi Indonesia.

    Penulis : Akasa Putra.

    Editor : Akasa Putra.

    Tinggalkan komentar