Batu, Jatimlines.id — Di balik sejuknya udara Junrejo, Kota Batu, tersimpan potongan sejarah yang jarang disentuh wisatawan, Rabu (22/7/2026).
Kawasan Tlekung menyimpan jejak pendudukan Jepang era 1940-an, mulai dari cerobong asap pabrik kulit hingga jaringan gua perlindungan.
Kini, situs-situs itu pelan-pelan dihidupkan lagi sebagai potensi wisata berbasis sejarah dan kearifan lokal.
Saksi Bisu Pabrik Kulit: Cerobong Asap Tahun 1942
Berdiri kokoh di tengah pemukiman, cerobong asap tua ini jadi penanda paling jelas masa lalu Tlekung.
Kepala Desa Tlekung, Mardi, menyebut struktur ini sudah ada sejak 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke wilayah tersebut.
Fakta di balik cerobong:
- Punya saluran bawah tanah: Di bawahnya terdapat rongga berbentuk gorong-gorong beton yang dulu terhubung langsung ke area pabrik kulit.
- Fungsi era Jepang: Bangunan ini merupakan bagian dari fasilitas pengolahan kulit milik Jepang.
- Sengaja dipertahankan: Warga dan pemerintah desa memilih membiarkannya tetap berdiri sebagai “tetenger” atau penanda sejarah, agar generasi muda tidak lupa jejak masa lalu di desanya.
Misteri Gua Jepang: 11 Lorong dan Ribuan Kelelawar.
Tak jauh dari cerobong, sekitar 700 meter ke arah barat, terdapat kompleks yang dikenal warga sebagai Gua Jepang.
Menurut Mardi, jaringan gua ini lebih luas dari yang terlihat.
“Setiap jarak 50 meter ada mulut goa. Di dalamnya ada beberapa cabang. Yang kami ketahui ada empat goa, mungkin yang lain tertutup tanah,” ujarnya.
Warga memperkirakan total ada 11 pintu atau lorong di dalam jaringan tersebut.
Kondisi di dalam:
- Lorong lurus dan ke kanan: Gelap dan menjadi habitat ribuan kelelawar.
- Lorong ke kiri: Medannya becek karena ada sumber air alami di bagian bawah.
- Akses terbatas: Sebagian besar pintu masuk kini ditutup karena minim sirkulasi udara dan penerangan, demi alasan keamanan.

Gua ini pernah dibuka sebagai destinasi wisata sekitar tahun 2004. Namun saat tim Disway Malang meninjau, kondisinya sudah tidak terawat.
Patirtaan Kaygun: Dari Tertutup Lahar ke Kolam BUMDes
Di antara cerobong dan gua, ada satu titik lain yang kini ramai: Patirtaan Kaygun.
Dahulu kolam ini tertutup material lahar akibat letusan gunung. Baru awal 2000-an kolam ditemukan kembali dan sempat dipakai untuk pemeliharaan ikan.
“Setelah ada rembug warga, sekarang dikembalikan menjadi kolam renang lagi, dikelola oleh BUMDes,” jelas Mardi.
Renovasi besar dilakukan pada 2019. Kini Patirtaan Kaygun difungsikan sebagai pemandian umum yang memanfaatkan sumber air alami langsung. Lokasinya berada di perbatasan tanah Perhutani dan lahan warga.
Saat ini pemandian dikelola Pemerintah Desa melalui BUMDes. Pengunjungnya cukup ramai, terutama saat akhir pekan Sabtu dan Minggu, didominasi wisatawan lokal.
Potensi Besar, Tantangan Nyata
Tiga titik ini, cerobong, gua, dan patirtaan, membentuk satu garis sejarah sepanjang 700 meter. Jika dikemas dengan baik, Tlekung bisa jadi destinasi edukasi sejarah sekaligus wisata alam.
Tantangannya ada pada perawatan dan keamanan. Gua butuh penataan ulang dan penerangan. Cerobong butuh area interpretasi agar pengunjung paham maknanya. Sementara Patirtaan sudah mulai jalan dengan pengelolaan BUMDes.
Dengan narasi sejarah yang kuat dan pengelolaan desa, Tlekung punya peluang jadi contoh bagaimana situs kelam masa perang bisa diubah menjadi ruang belajar dan wisata yang hidup.
Penulis : Akasa Putra.
Editor : Akasa Putra.