Badung, Jatimlines.id – Dalam upaya meningkatkan literasi finansial pelaku usaha mikro di tingkat lokal, tim mahasiswa pengabdian masyarakat menggelar program edukasi manajemen keuangan secara door-to-door di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Kegiatan yang berlangsung pada 29–30 Juli 2026 ini menyasar pelaku UMKM lokal guna memberikan pemahaman praktis terkait pengelolaan kas harian dan penyusunan laporan keuangan sederhana.
Pendekatan door-to-door dipilih agar edukasi dapat berlangsung secara personal dan intensif tanpa mengganggu jam operasional dagang para pemilik usaha. Dalam aksi lapangan ini, tim mendatangi dua usaha sasaran prioritas, yakni Warung Lalapan dan Nasi Goreng Mba Ria pada Rabu (29/7/2026) serta Warung Jaan San pada Kamis (30/7/2026).
Program ini dilatarbelakangi oleh maraknya fenomena “kebocoran kas” yang dialami oleh pelaku usaha skala mikro. Kebanyakan pedagang sering kali mendapati uang di kasir cepat habis, bukan karena sepi pembeli, melainkan akibat belum diterapkannya pemisahan kas usaha dengan kebutuhan dapur rumah tangga serta ketiadaan catatan arus kas (cash flow) yang disiplin.
Selama kegiatan pendampingan, para pelaku UMKM dibekali pemahaman mengenai penerapan Two-Pocket System (Sistem Dua Kantong/Dompet) untuk memisahkan kas usaha dan pribadi, teknik penentuan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang memperhitungkan porsi jasa pemilik, hingga cara membagi pendapatan ke dalam tiga pos fungsional (operasional, dana cadangan, dan gaji pemilik).
Selain menyampaikan materi menggunakan media poster infografis visual, tim juga menyerahkan paket fisik berupa Modul Panduan Ringkas Keuangan UMKM yang dapat langsung digunakan peserta untuk pembukuan harian. Tingkat pemahaman peserta juga diukur secara transparan melalui pengisian evaluasi Pre-Test dan Post-Test berbasis digital via Google Forms.
Gagasan dan materi yang dibawakan mendapat respons yang sangat hangat dan antusias dari para pemilik warung.
“Jujur, selama ini saya jualan ya asal ambil uang di laci kasir aja. Kalau butuh beli bumbu dapur rumah atau uang saku anak, ya comot dari laci situ. Pas diajari soal sistem dua kantong sama hitung nilai tenaga sendiri, saya baru sadar kalau modal jualan saya sering keserap tanpa kerasa,” tutur Mba Ria, pemilik Warung Lalapan dan Nasi Goreng Mba Ria di sela-sela sesi pendampingan pada Rabu (29/7/2026).
Ia juga menambahkan bahwa penjelasan menggunakan poster dan modul membuat materi yang awalnya terkesan rumit jadi lebih masuk akal. “Banyak istilah perhitungan yang jujur baru pertama kali saya dengar, seperti alokasi porsi jasa pemilik. Ternyata penting banget supaya usaha kita kelihatan untung bersihnya berapa. Modulnya juga enak dibaca, bahasanya santai,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh pengelola Warung Jaan San saat dikunjungi pada Kamis (30/7/2026). Pihaknya mengaku terkesan dengan metode pendampingan yang sabar dan tidak menggurui.
“Biasanya kalau ada acara sosialisasi kan kita dikumpulin di aula terus cuma dengerin ceramah. Tapi adik-adik mahasiswa ini mau dateng langsung ke warung, nungguin kita pas lagi selang melayani pembeli, terus nemenin latihan ngisi lembar perhitungan sampai paham,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran lembar kerja fisik yang ditinggalkan oleh tim. “Buku modul yang diberikan ini berguna sekali buat patokan. Jadi malam habis tutup warung, tinggal luangkan waktu sepuluh menit buat nyatat uang masuk dan keluar,” pungkasnya.
Melalui edukasi dan penyerahan instrumen pembukuan ini, diharapkan para pelaku UMKM di Desa Ungasan dapat perlahan meninggalkan kebiasaan lama mencampuradukkan uang usaha, sehingga mampu membaca keuntungan bersih riil dan membawa usahanya berkembang lebih mandiri serta berkelanjutan.
Penulis:
Tim KKN Berdampak Nusantara Bali UPN Veteran Jawa Timur
DPL: Agnes Tresia Silalahi