Indonesia, JATIMLINES.ID – Lebaran sering kali menjadi ajang reuni keluarga besar. Selain makanan khas yang menggoda selera, ada satu hal yang hampir selalu hadir: pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan pribadi.
Mulai dari, “Kapan lulus?” hingga “Kapan bawa calon ke rumah?”. Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, bisa menjadi tekanan tersendiri.
Namun, bagaimana jika para filsuf yang mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu? Mari kita bayangkan bagaimana mereka akan menjawab dengan gaya pemikiran khas para filsuf.

Kapan lulus kuliah?
Friedrich Wilhelm Nietzsche tersenyum tipis.
“Seorang manusia harus menjadi dirinya sendiri, bukan sekadar mengejar gelar yang dianggap mulia oleh masyarakat. Bukankah kehidupan itu sendiri adalah ujian tanpa akhir? Mengapa harus terburu-buru mendapatkan selembar kertas?,” ungkap Nietzsche.
Bagi Nietzsche, seorang filsuf, penulis prosa, kritikus budaya, dan filolog Jerman, nilai seseorang tidak ditentukan oleh ijazah atau pencapaian akademik. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menemukan dan menjadi dirinya yang sejati.

Kapan nikah?
Soren Aabye Kierkegaard menatap jauh, mungkin mengingat Regine Olsen, perempuan yang pernah ia tinggalkan.
“Cinta bukan soal kapan menikah, tetapi keberanian untuk memilih dan menerima konsekuensinya. Apakah pernikahan membawa kebahagiaan atau justru hidup tanpa pernikahan lebih baik? Ini paradoks yang tak kunjung selesai!,” ungkap Kierkegaard.
Sebagai filsuf dan teolog Denmark, Kierkegaard memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang mengikuti norma, tetapi soal pilihan yang mendalam dan penuh risiko.

Kapan wisuda?
Jean Paul Charles Aymard Sartre mengambil kacamata, kemudian lekas menjawab.
“Manusia dikutuk untuk bebas. Tidak ada lulus atau tidak lulus, yang ada hanya pilihan, tetap berproses atau menyerah pada ekspektasi orang lain, ungkap Sartre.
Menurut Sartre, seorang filsuf kontemporer dan penulis Prancis, kebebasan adalah esensi manusia. Hidup tidak boleh sekadar mengikuti skenario yang ditentukan orang lain.

Kok masih sendiri?
Albert Camus mengangkat bahunya dan tersenyum tipis.
“Mungkin absurditasnya terletak pada kenyataan bahwa kita harus mencari pasangan tanpa menyadari bahwa kebahagiaan sejati adalah menerima kesendirian. Mengapa harus menikah kalau hidup itu sendiri sudah cukup absurd?,” ungkap Camus.
Bagi Camus, seorang filsuf, penulis, dan jurnalis Prancis-Aljazair, hidup tidak harus selalu memiliki makna besar. Justru, menerima kenyataan dan menikmatinya adalah bagian dari kebebasan manusia.

Kapan bawa calon?
Plato hanya tersenyum dan membelai janggutnya.
“Seorang manusia seharusnya menemukan pasangan yang merupakan bentuk ideal dari jiwanya, bukan sekadar seseorang yang hadir karena tekanan sosial. Apakah aku sudah menemukannya? Sayangnya, dunia ini hanyalah bayangan dari realitas yang lebih sempurna,” ungkap Plato.
Plato, seorang filsuf dan matematikawan percaya pada konsep dunia ide. Pasangan sejati mungkin ada, tetapi di dunia yang lebih sempurna daripada yang kita jalani sekarang.

Nggak baik kalau perempuan terlalu lama sendiri
Simone Lucie Ernestine Marie Bertrand De Beauvoir menghela napas, lalu berkata dengan tenang.
“Aku menolak gagasan bahwa perempuan harus diukur dari pernikahan. Aku memilih kebebasanku sendiri, dan itu jauh lebih penting daripada memenuhi harapan masyarakat,” ungkap De Beauvoir.
Sebagai feminis eksistensialis, De Beauvoir menekankan bahwa perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, tanpa harus tunduk pada norma sosial yang mengekang.

Ngga kesepian dengan hidup sendiri?
Epictetus menjawab dengan tenang.
“Kenapa harus bersedih atas sesuatu yang di luar kendaliku? Jika pernikahan memang bagian dari takdirku, maka itu akan datang tanpa aku mengejarnya. Jika tidak, maka itu bukan sesuatu yang harus kupaksakan,” ungkap Epictetus.
Sebagai filsuf Stoik Yunani Kuno, Epictetus mengajarkan untuk menerima kehidupan sebagaimana adanya dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.

Udah berumur, kapan lulus terus nikah?
Slavoj Zizek terkekeh sambil mengusap janggutnya.
“Pertanyaan itu sendiri adalah ideologi! Kita selalu dituntut untuk mengikuti narasi hidup yang sama: sekolah, kerja, menikah, mati. Tapi pernahkah kalian bertanya, apakah ini satu-satunya jalan hidup? Atau mungkin ada cara lain yang belum kita bayangkan?,” ungkap Zizek.
Zizek, dengan gaya khasnya, mengkritik sistem yang memaksa manusia untuk mengikuti jalur kehidupan yang seragam.

Kesimpulan
Di tengah hiruk-pikuk pertemuan keluarga saat Lebaran, pertanyaan-pertanyaan tentang lulus, menikah, atau pekerjaan mungkin terasa menekan.
Namun, jika kita melihatnya dari sudut pandang filsuf, kita bisa menyadari bahwa hidup tidak harus berjalan dalam satu jalur yang sama untuk semua orang.
Setiap individu memiliki perjalanan uniknya sendiri, dan yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani hidup dengan kesadaran, kebebasan, dan makna yang kita pilih sendiri.

Sehingga, ketika pertanyaan itu datang, mungkin kita bisa tersenyum dan berkata. Bukankah hidup lebih dari sekadar memenuhi ekspektasi orang lain?
Penulis: Nana
Editor: Red