SUB : TIDAK IMPOR! SUMATRACO Pilih Berdayakan Petani Garam Sampang Untuk Naikkan Mutu dan Harga.
Sampang, Jatimlines.id – Saat banyak industri mengeluh soal impor garam, PT Sumatraco, justru menoleh ke belakang. Ke hulu. Ke petani. Perusahaan ini memilih jalan panjang, memberdayakan petani garam lokal.
Bukan sekadar beli. Tapi mendampingi. Mengajari. Memastikan mutu. Targetnya satu, menguatkan daya saing industri pengolahan garam nasional dari akarnya.
Fokus ke Hulu: Garam Bagus Dimulai dari Petani
Langkah strategis ini nyata di lapangan. Salah satunya di Kabupaten Sampang, Madura. PT Sumatraco, turun langsung mendampingi petani garam di sana.

Tujuannya jelas, meningkatkan kualitas produksi agar memenuhi standar mutu industri.
“Fokus kami adalah mendampingi petani agar mampu menghasilkan garam dengan kualitas tinggi. Jika mutu garam bagus, harga jual di tingkat petani pun bisa maksimal,”tegas, Mohammad Ishak, perwakilan PT Sumatraco, Rabu (2/9/2026).
Kendati demikian, selama ini petani sering disalahkan karena mutu rendah. Padahal mereka tidak pernah diajari caranya.
Rahasia Mutu: Panen Jangan Tergesa-gesa. Selain pendampingan, ada ilmu baru yang ditransfer ke petani. Agar garam berkualitas tinggi, masa panen harus dimaksimalkan.
Standarnya: minimal 12 hari sampai 30 hari.
Kenapa? Karena di rentang waktu itu kadar NaCl garam akan naik dan bagus. Tidak gampang kalah dengan garam impor.
Selama ini banyak petani panen cepat, karena butuh uang. Akibatnya mutu jatuh, harga anjlok.

Dampak Ganda: Industri Aman, Petani Sejahtera
Langkah PT Sumatraco ini punya dua keuntungan sekaligus.
- Pertama untuk industri. Pasokan bahan baku jadi stabil. Tidak tergantung impor. Mutu terjaga.
- Kedua, untuk petani. Dengan mutu naik, harga jual di tingkat petani ikut naik. Kesejahteraan mereka terdongkrak secara berkelanjutan.
Ini bukan CSR. Ini strategi bisnis yang berkeadilan.
Kemandirian Garam Dimulai dari Sampang.Tantangan industri garam dalam negeri memang berat.
Tapi PT Sumatraco membuktikan, solusinya bukan impor. Solusinya adalah, menguatkan yang ada di dalam negeri.
“Dan Sampang Madura dipilih jadi titik awal.
Karena di sanalah garam terbaik Indonesia bisa lahir. Asal ada yang mau mendampingi. Karena kemandirian garam nasional tidak akan pernah tercapai, jika petani di hulunya masih dibiarkan berjuang sendiri,” pungkasnya.
Penulis : Wahid Ismail.
Editor : Akasa Putra.