Pasuruan, Jatimlines.id – Sungai-sungai yang membelah Kota Pasuruan kini tengah menghadapi lampu kuning. Di balik aliran airnya yang bermuara ke laut, terdapat ancaman nyata berupa penurunan kualitas air (sedimentasi) dan banjir tahunan akibat tumpukan sampah serta limbah domestik yang langsung dibuang tanpa proses penyaringan.
Merespons kondisi kritis ini, Pemerintah Kota Pasuruan melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) bergerak cepat dengan menggelar “Kegiatan Sosialisasi Pemberian Informasi Peringatan Pencemaran Air Sungai kepada Masyarakat.” Acara yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Ruang Rapat Bumi Pertiwi Kantor DLHKP Kota Pasuruan ini, secara khusus mengundang para pemangku wilayah akar rumput, termasuk Ketua RW 002 Kelurahan Kandangsapi, sebagai garda terdepan edukasi lingkungan.

Kepala DLHKP Kota Pasuruan, Samsul Rizal, S.T., M.T., dalam pembukaannya menekankan pentingnya mengubah paradigma masyarakat. Menurutnya, kesadaran warga dalam mengelola limbah rumah tangga masih perlu didorong secara masif agar tidak ada lagi yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir.
Ancaman Nyata “Limbah Domestik”
Hadir sebagai pemateri utama, Dr. Ir. Isni Arliyani, S.T., M.T., pakar dari Laboratorium Teknologi Pengolahan Air Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, membeberkan fakta lapangan yang mencengangkan.
“Jika sektor industri rata-rata sudah ketat diawasi oleh regulasi instalasi pengolahan limbah (IPAL), maka sektor domestik atau rumah tangga justru menjadi penyumbang pencemaran yang sering kali lolos dari pantauan,” ujar Dr. Isni.
Ia menyoroti fenomena hilangnya fungsi septic tank (tangki septik) yang ideal di pemukiman padat. Berdasarkan hasil uji laporan, masih ditemukan saluran jamban warga yang langsung diarahkan ke badan sungai tanpa melalui proses filterisasi yang benar. Akibatnya, kualitas air sungai yang mengalir di wilayah Pasuruan—seperti Sungai Gembong, Welang, dan Petung—mengalami penurunan kelas kualitas air.
“Secara alami, air sungai itu bersih. Namun siklus realita menunjukkan, air yang digunakan untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan dapur kembali ke sungai dalam kondisi tercemar. Sedikit demi sedikit dari ribuan rumah, jika diakumulasikan, dampaknya jauh lebih merusak dibanding limbah industri,” tambah akademisi muda ITS tersebut.
Dilema Hulu-Hilir dan Masalah Sedimen
Senada dengan Dr. Isni, Taufan Hikmah, S.T., Pengamat Operasi dan Pemeliharaan dari UPT PSDA WS Welang Pekalen di Pasuruan, menjelaskan bahwa masalah sungai di Kota Pasuruan sangat dipengaruhi oleh posisinya yang berada di kawasan hilir.
Dari data historis dan peta digital, wilayah seperti Sungai Gembong kerap dilanda banjir besar. Warga sering kali menyalahkan kiriman air dan material lumpur (sedimentasi) dari kawasan hulu atau pegunungan.
Namun, Taufan mengingatkan bahwa warga hilir pun tidak bisa lepas tangan. Kombinasi antara sedimentasi alami dari hulu dengan kebiasaan membuang sampah ke sungai serta alih fungsi saluran drainase (selokan hujan) menjadi tempat pembuangan air limbah (greywater) di hilir, mempercepat pendangkalan sungai. Akibatnya, kapasitas tampung air drastis menurun, dan banjir menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Komitmen dan Evaluasi Berkelanjutan
Sosialisasi ini tidak sekadar menjadi ajang mendengarkan teori. Untuk mengukur efektivitas penyampaian materi, DLHKP menerapkan sistem pre-test dan post-test bagi seluruh peserta. Langkah ini diambil untuk memastikan adanya peningkatan pemahaman yang nyata dari para tokoh masyarakat sebelum mereka kembali dan mengedukasi warga di lingkungan masing-masing.
Melalui kegiatan ini, DLHKP Kota Pasuruan berharap para Ketua RW dan RT dapat menjadi motor penggerak untuk mendirikan sistem pengelolaan limbah komunal yang lebih ramah lingkungan serta memperketat pengawasan warga setempat. Menyelamatkan tiga sungai utama Pasuruan bukan lagi sekadar tugas pemerintah provinsi atau dinas terkait, melainkan komitmen kolektif dari hulu hingga ke tiap-tiap teras rumah warga.
Penulis : Penulis: Firnas Muttaqin
Editor : Akasa Putra.





