Pasuruan, Jatimlines.id – Perkembangan Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah, di Kota Pasuruan tidak dapat dilepaskan dari kiprah para atlet dan pelatih generasi awal.
Salah satunya adalah Choiruddin Muchtar, yang sejak remaja telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tapak Suci hingga berkembang menjadi salah satu perguruan silat berprestasi di Kota Pasuruan.
Choiruddin mulai mengenal Tapak Suci pada tahun 1974 ketika masih duduk di kelas I SMP Muhammadiyah Pasuruan. Saat itu, Tapak Suci baru merintis pembinaan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan bimbingan dua pelatih dari Malang, Ismail dan Karim.
Menurut Choiruddin, keduanya menjadi sosok penting yang meletakkan dasar pembinaan teknik maupun organisasi Tapak Suci di Pasuruan.
Ismail bahkan kemudian dikenal sebagai pelatih tingkat nasional yang kerap terlibat dalam ujian kenaikan tingkat di pusat Tapak Suci di Yogyakarta.
Ia menyebut dirinya sebagai atlet generasi kedua Tapak Suci Kota Pasuruan. Generasi pertama terdiri atas tokoh-tokoh seperti Riyadi Amin, Soche, Mus, Pudiono, Ruslan Suharto, dan Suripto.
Mereka bukan hanya menjadi atlet, tetapi juga turut mengembangkan Tapak Suci di berbagai sekolah Muhammadiyah sehingga organisasi ini semakin dikenal masyarakat.
Pada masa itu, sistem pembinaan dilakukan secara bertahap melalui jenjang sabuk, mulai dari sabuk putih, sabuk kuning dengan beberapa tingkatan, hingga sabuk biru.
Seluruh sistem latihan mengikuti pola pembinaan dari Malang. Kenaikan tingkat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknik, tetapi juga kedisiplinan dan kesungguhan mengikuti latihan.
Latihan tidak hanya berlangsung di lingkungan SMP Muhammadiyah, tetapi juga di beberapa langgar atau mushala yang menjadi pusat aktivitas warga Muhammadiyah.
Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat, latihan tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar pencak silat, sehingga banyak pelajar dari berbagai latar belakang ikut bergabung.
Kerja keras para pelatih dan atlet mulai membuahkan hasil ketika Tapak Suci meraih gelar juara umum pada Kejuaraan Pencak Silat Kota/Kabupaten Pasuruan sekitar tahun 1975.
Saat itu Tapak Suci bersaing dengan sejumlah perguruan yang telah lebih dahulu berkembang, seperti Persaudaraan Setia Hati, Perisai Diri, dan Kera Sakti. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik yang mengangkat nama Tapak Suci di Kota Pasuruan.
Prestasi itu berdampak besar terhadap perkembangan organisasi. Semakin banyak sekolah Muhammadiyah membuka kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci, di antaranya SMP Muhammadiyah. Dari sekolah-sekolah tersebut lahir atlet-atlet yang kemudian mengukir prestasi hingga tingkat nasional.
Choiruddin masih mengingat beberapa nama atlet yang pernah mengharumkan nama Pasuruan, seperti Asmiah dan Astuti yang berhasil berprestasi pada kejuaraan nasional di Yogyakarta. Ia juga menyebut Fahrina yang meraih juara II pada Kejuaraan Nasional internal Tapak Suci di Jember.
“Keberhasilan para atlet tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi generasi berikutnya,” kenang Choiruddin, Minggu (5/7/2026).
Selain aktif sebagai atlet, Choiruddin kemudian dipercaya menjadi pelatih di berbagai sekolah. Ia ikut memperluas pembinaan Tapak Suci di sejumlah lembaga pendidikan, diantaranya Madrasah Tsanawiyah Negeri dan SMEA (sekarang SMK), termasuk di wilayah Lekok kabupaten Pasuruan dan sekolah-sekolah Muhammadiyah lainnya. Dari dunia kepelatihan, ia kemudian mengikuti pendidikan wasit-juri hingga tingkat provinsi.
Pengalaman itu membawanya mengemban amanah sebagai wasit-juri pencak silat sekaligus dipercaya menjadi Sekretaris II (IPSI) Kota Pasuruan.
Peran tersebut menunjukkan bahwa pengabdiannya terhadap pencak silat tidak berhenti sebagai atlet, melainkan berlanjut dalam pembinaan organisasi dan pengembangan olahraga pencak silat di daerah.
Bagi Choiruddin, Tapak Suci tidak hanya mengajarkan teknik bela diri. Organisasi ini juga membentuk karakter anggotanya melalui pembinaan keislaman. Tokoh-tokoh Muhammadiyah secara rutin memberikan materi keagamaan kepada para anggota, sehingga latihan fisik selalu diimbangi dengan pembinaan akhlak dan spiritual.
Ia juga mengenang tradisi unik Tapak Suci pada masa itu.
“Para anggota mengenakan seragam lengkap dan berlari mengelilingi Kota Pasuruan setiap akhir pekan,” jelas Choiruddin.
Selain menjadi bagian dari latihan fisik, kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan Tapak Suci kepada masyarakat dan menarik minat generasi muda untuk bergabung.
Meski kini tidak lagi mengikuti aktivitas organisasi secara intensif karena kesibukan pekerjaan, Choiruddin tetap menyimpan kenangan mendalam terhadap masa-masa awal perkembangan Tapak Suci. Baginya, pencak silat telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya, mengajarkan disiplin, keberanian, tanggung jawab, dan semangat mengabdi.
Kisah Choiruddin Muchtar merupakan potret perjuangan generasi awal yang membesarkan Tapak Suci di Kota Pasuruan. Melalui dedikasi para atlet, pelatih, dan kader Muhammadiyah pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Tapak Suci berkembang bukan hanya sebagai perguruan pencak silat berprestasi, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter dan kaderisasi generasi muda. Warisan pengabdian itulah yang hingga kini menjadi bagian dari sejarah perkembangan Tapak Suci di Kota Pasuruan.
Penulis: Firnas Muttaqin.
Editor : Akasa Putra.





