Oleh: Firnas Muttaqin
Sejak awal Juli 2026, media sosial dipenuhi narasi dramatis: “24 Juli 2026 menjadi hari berakhirnya dominasi dolar Amerika Serikat.” Narasi itu dikaitkan dengan keputusan sejumlah bank besar di China yang menghentikan layanan perdagangan emas kertas (paper gold) bagi investor ritel.
Bagi sebagian orang, kebijakan tersebut dianggap sebagai “serangan ekonomi” terhadap Amerika Serikat. Namun, benarkah dunia sedang menyaksikan runtuhnya sistem moneter berbasis dolar?
Dari Bretton Woods hingga Dominasi Dolar
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, dolar AS menjadi pusat sistem keuangan global. Meskipun hubungan langsung dolar dengan emas berakhir pada 1971 ketika Presiden Richard Nixon menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas, mata uang AS tetap menjadi alat pembayaran utama perdagangan internasional.
Hingga kini, sebagian besar transaksi lintas negara, perdagangan energi, pembiayaan internasasional, dan cadangan devisa bank sentral masih didominasi dolar.
Dominasi ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga pada besarnya pasar obligasi pemerintah AS, likuiditas sistem keuangannya, serta kepercayaan investor global.
Langkah China yang Memicu Spekulasi
Mulai 24 Juli 2026, sejumlah bank besar di China menghentikan layanan perdagangan emas berbasis kontrak atau paper gold untuk investor ritel.
Yang dihentikan bukanlah jual beli emas batangan, melainkan instrumen keuangan yang mengikuti harga emas tanpa kepemilikan fisik.
Kebijakan tersebut diambil setelah tingginya volatilitas harga emas yang meningkatkan risiko spekulasi.
Tujuan utamanya adalah memperkuat stabilitas sistem keuangan domestik, bukan mengumumkan berakhirnya penggunaan dolar.
Mengapa China Terus Membeli Emas?
Meski tidak sedang “menghancurkan dolar”, China memang telah lama menjalankan strategi diversifikasi aset.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Sentral China secara konsisten menambah cadangan emas. Langkah serupa juga dilakukan oleh sejumlah bank sentral lain, termasuk India, Turki, dan beberapa negara Timur Tengah.
Ada beberapa alasan utama:
- mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar;
- memperkuat kepercayaan terhadap cadangan devisa;
- melindungi nilai aset ketika terjadi gejolak geopolitik;
- serta memperkuat posisi yuan dalam perdagangan internasional.
Dengan kata lain, emas dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven), bukan senjata untuk menjatuhkan dolar dalam semalam.
BRICS dan Agenda Dedolarisasi
Perhatian dunia juga tertuju pada kelompok BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan negara-negara anggota baru.
BRICS mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antaranggota untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Namun hingga kini, belum ada mata uang tunggal BRICS yang mampu menggantikan peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia.
Proses dedolarisasi lebih tepat dipahami sebagai perubahan bertahap, bukan revolusi yang terjadi dalam satu hari.
Emas Fisik atau Emas Digital?
Perdebatan lain yang ikut mengemuka adalah mengenai emas fisik dan emas digital.
Emas fisik memberikan kepemilikan langsung atas logam mulia yang dapat disimpan sendiri atau melalui lembaga penyimpanan resmi.
Sementara itu, emas digital maupun paper gold memberikan eksposur terhadap harga emas tanpa selalu memberikan hak atas emas batangan tertentu. Pada beberapa produk, kepemilikan benar-benar didukung emas fisik, tetapi pada produk lain hanya berupa kontrak keuangan. Karena itu, investor perlu memahami mekanisme setiap produk sebelum berinvestasi.
Apakah Dolar Akan Runtuh?
Sejumlah ekonom menilai dominasi dolar kemungkinan akan terus berkurang secara perlahan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lain dalam perdagangan internasional.
Namun, menggantikan dolar bukan perkara sederhana.
Dolar masih memiliki keunggulan berupa pasar keuangan yang sangat dalam, likuiditas tinggi, serta jaringan penggunaan global yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Oleh sebab itu, tidak ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa kebijakan China pada 24 Juli 2026 akan langsung mengakhiri era dolar.
Pelajaran bagi Investor Indonesia
Bagi masyarakat Indonesia, isu ini sebaiknya tidak disikapi dengan kepanikan ataupun euforia.
Yang lebih penting adalah memahami karakter instrumen investasi, melakukan diversifikasi aset, serta menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada informasi viral yang belum terverifikasi.
Kebijakan China memang mencerminkan arah baru pengelolaan risiko di pasar keuangan dan bagian dari tren dedolarisasi global. Namun, perubahan tatanan moneter dunia merupakan proses yang kompleks dan berlangsung dalam jangka panjang.
Kesimpulannya, tanggal 24 Juli 2026 bukanlah “hari kiamat dolar”. Yang terjadi adalah penyesuaian kebijakan perdagangan emas oleh sejumlah bank besar di China. Meski langkah itu dapat dibaca sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang China, dominasi dolar AS masih ditopang oleh fondasi ekonomi dan keuangan global yang sangat kuat.
Di tengah perubahan lanskap ekonomi dunia, investor dituntut untuk lebih kritis, memahami fakta, dan tidak mudah terbawa narasi sensasional yang beredar di media sosial.Referensi utama:
Crypto Briefing, laporan mengenai penghentian layanan paper gold oleh sejumlah bank besar China mulai 24 Juli 2026.
Data dan publikasi mengenai cadangan emas bank sentral dari World Gold Council.
Publikasi dan statistik internasional dari IMF mengenai komposisi cadangan devisa global.
Laporan Bank for International Settlements (BIS) mengenai penggunaan mata uang dalam transaksi internasasional.
Kajian mengenai penggunaan mata uang lokal dan dedolarisasi dalam kerja sama BRICS.
Artikel ini dirancang agar tetap membedakan fakta yang telah dikonfirmasi (penghentian layanan paper gold oleh sejumlah bank) dari analisis dan proyeksi (potensi dampaknya terhadap dominasi dolar), sehingga tidak mencampuradukkan keduanya sebagai kepastian. (*)
Firnas Muttaqin






