Beranda / Seni / Seni sebagai Jembatan Inklusi: Inovasi Resiliensi Akademik ala Eka Erawati

Seni sebagai Jembatan Inklusi: Inovasi Resiliensi Akademik ala Eka Erawati

Dalam dunia pendidikan, keberhasilan seorang guru sering kali tidak hanya diukur dari sejauh mana ia mentransfer ilmu, tetapi dari kemampuannya menciptakan rasa aman dan penerimaan bagi setiap siswanya. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Eka Erawati, seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP Negeri 55 Surabaya. Melalui pendekatan yang humanis, Eka membuktikan bahwa setiap anak, terlepas dari keterbatasan fisiknya maupun mentalnya, memiliki potensi istimewa yang layak dikembangkan.

Salah satu kontribusi nyata Eka adalah pengintegrasian metode terapi seni (art therapy) dan terapi puisi (poetry therapy) ke dalam proses belajar siswa inklusi, khususnya bagi anak-anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Melalui media melukis—baik secara konvensional maupun digital—siswa tidak hanya diajak mengasah kreativitas, tetapi juga dilatih untuk mengendalikan emosi dan meningkatkan fokus. Bagi Eka, seni adalah jendela untuk menelusuri pemahaman akademik siswa secara lebih mendalam tanpa memberikan tekanan berlebih.

Lebih jauh lagi, Eka memanfaatkan puisi sebagai sarana untuk membangun resiliensi akademik. Di tengah gempuran distraksi gawai dan tekanan media sosial yang kerap memicu kecemasan pada remaja, media puisi hadir sebagai katarsis. Siswa diajak untuk mengenali perasaan mereka, menyalurkan tekanan batin, dan akhirnya membentuk sudut pandang yang lebih positif terhadap tantangan pendidikan yang mereka hadapi.

Dedikasi Eka tidak berhenti di ruang kelas. Semangat belajarnya membawa ia meraih gelar Doktor dari Universitas Negeri Malang melalui beasiswa LPDP. Risetnya mengenai resiliensi akademik bahkan telah membuahkan alat ukur yang diakui secara internasional melalui jurnal terindeks Scopus. Melalui bukunya yang berjudul “Karena Sekolah Bukan Laundry”, ia menegaskan bahwa sekolah adalah tempat proses, bukan sekadar tempat menitipkan anak untuk “dibersihkan” secara instan.

Kisah Eka Erawati adalah pengingat bagi kita semua bahwa riset dan inovasi bukan hanya milik kalangan akademisi di menara gading. Sebagai praktisi pendidikan, guru memiliki peluang besar untuk melakukan penelitian yang berdampak langsung pada siswa. Dengan menggabungkan empati seorang “ibu” dan ketajaman seorang peneliti, Eka telah membuka jalan bagi masa depan pendidikan inklusi yang lebih berwarna dan tangguh di Surabaya.

Penulis : Firnas Muttaqin

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *