Beranda / INTERNASIONAL / Badai Sempurna di Langit Indonesia

Badai Sempurna di Langit Indonesia

Oleh: Firnas Muttaqin

Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan tol yang mulus, namun tiba-tiba mesin terbatuk, ban pecah, dan indikator bensin menunjukkan angka nol secara bersamaan. Itulah gambaran kasar kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Di saat negara tetangga seperti Vietnam atau Thailand mulai memacu kecepatan dan mencapai rekor tertinggi saham mereka, Indonesia justru tampak sedang “turun mesin” dan menjadi satu-satunya yang berada di titik terendah (*All Time Low*) di kawasan ASEAN.

Sinyal Darurat dari Layar Saham

Fenomena anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 20% dalam waktu singkat bukanlah sekadar angka statistik bagi para pialang. Berdasarkan data terbaru, IHSG berada di level 6.858,90, sebuah penurunan tajam sebesar 20,68% sepanjang tahun berjalan.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan ketika saham-saham perbankan raksasa seperti BBCA dan BBRI—yang biasanya menjadi simbol kekuatan ekonomi nasional—anjlok kembali ke harga saat masa pandemi COVID-19. Ini adalah pesan eksplisit dari pasar: kondisi saat ini dirasakan sama gentingnya dengan masa ketika dunia berhenti berputar total empat tahun lalu.

Pelarian Modal dan Krisis Kepercayaan

Mengapa investor asing “angkat kaki”? Masalah utamanya adalah kepercayaan. Ibarat tamu yang ingin menginap, mereka merasa tuan rumah terlalu sering mengubah aturan atau memberikan regulasi yang memberatkan, terutama bagi investor asal China.

Dampaknya sangat nyata. Lembaga internasional seperti MSCI mulai melakukan pemblokiran (ban) terhadap saham-saham Indonesia dari daftar rekomendasi dunia. Tanpa kepercayaan global, modal keluar dengan cepat, meninggalkan Rupiah yang kini lunglai di angka Rp 17.503 per Dollar AS.

Dapur Umum yang Terlalu Mahal

Di sisi lain, beban anggaran negara berada dalam sorotan tajam. Dengan tumpukan utang yang menyentuh angka fantastis Rp 10.000 triliun, pemerintah justru meluncurkan program Makan Bergizi (MBG) yang memakan biaya Rp 1,2 triliun setiap harinya. Ibarat sebuah keluarga yang utangnya menumpuk namun tetap memaksakan pesta makan besar setiap hari, publik mulai bertanya-tanya: sampai kapan ketahanan ini akan bertahan?

Ironi ini kian terasa di mata masyarakat saat melihat kontras gaya hidup kepemimpinan. Di tengah ekonomi yang sedang sesak napas, publik menyaksikan perjalanan kerja (dinas) Presiden dengan fasilitas mewah, yang sangat berbanding terbalik dengan kesederhanaan pemimpin negara tetangga seperti PM Singapura yang tetap memilih pesawat komersial.

Apa Dampaknya bagi Kita?

Saat Rupiah menyentuh angka Rp 17.500, ini bukan lagi sekadar berita di televisi, melainkan ancaman di meja makan. Harga barang impor akan melonjak—mulai dari kedelai untuk tempe, gandum untuk mie instan, hingga bahan bakar.

Indonesia kini berdiri di persimpangan jalan. Menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang berada di titik terendah adalah peringatan keras bahwa struktur ekonomi kita membutuhkan perbaikan mendalam sebelum mesinnya benar-benar mati di tengah jalan. (*)

Pasuruan, 13/5/2026

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *