Beranda / PENDIDIKAN / Riset Siswa MAN 2 Kota Malang Raih Perak OMI 2025.

Riset Siswa MAN 2 Kota Malang Raih Perak OMI 2025.

Fenomena “Kedonyan” dalam Pengajian Lingkungan NU.

Malang, Jatimlines.id – Isu transformasi dakwah di era digital menjadi perhatian serius dalam riset yang dilakukan siswa MAN 2 Kota Malang. Melalui penelitian berjudul “Fenomena Kedonyan dalam Transformasi Pengajian Lingkungan NU: Dinamika Relasi Kiai dan Minat Gen Z”, tim ini berhasil meraih Medali Perak Olimpiade Madrasah Internasional (OMI) 2025 pada bidang riset sub-tema Ekoteologi.

Berdasarkan wawancara pada 24 April 2026 di MAN 2 Kota Malang, Kiara Anandya Maharani (XF) menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari fenomena maraknya pengajian yang viral di media sosial, namun dinilai lebih menonjolkan unsur hiburan dibandingkan esensi dakwah.

“Kami menemukan istilah ‘kedonyan’ yang merujuk pada kecenderungan sebagian pengajian yang lebih mementingkan aspek duniawi atau hiburan. Setelah penelitian lapangan, fenomena ini memang kami temukan, baik dari sisi ulama, panitia, maupun peserta,” jelasnya.

Meski demikian, Kiara menegaskan bahwa tidak semua pengajian memiliki karakteristik tersebut. Ia menekankan bahwa tim peneliti tidak bermaksud menghakimi, melainkan memberikan indikator sebagai alat analisis.

“Kami tidak menjustifikasi mana yang kedonyan dan mana yang tidak, tetapi memberikan indikator untuk memahami fenomena tersebut secara objektif,” tambahnya.

Lebih lanjut, penelitian ini juga menawarkan solusi berupa konsep dakwah yang lebih relevan dengan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z). Solusi tersebut meliputi penyajian materi yang kontekstual, pendekatan komunikasi yang adaptif, serta penguatan loyalitas komunitas.

Sementara itu, anggota tim Hasna Arum Kamila (XF) berharap penelitian ini dapat memberikan perspektif baru dalam penyelenggaraan pengajian yang lebih efektif dan diterima oleh masyarakat, khususnya kalangan muda.

“Solusi yang kami tawarkan diharapkan dapat menjadi tolok ukur agar pengajian berjalan lebih baik, dengan pendekatan yang halus dan mudah diterima oleh Gen Z,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah, tim, pembimbing, serta orang tua atas dukungan yang telah diberikan selama proses penelitian hingga kompetisi.

Senada dengan itu, Adymas Rafif Altaisir (XF) mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah keterbatasan waktu dan komunikasi internal.

“Kami menghadapi banyak rintangan, terutama soal waktu. Namun yang paling penting adalah komunikasi tim. Ke depan, hal ini perlu lebih diperkuat agar tidak terjadi miskomunikasi,” ungkapnya.

Meski dihadapkan pada berbagai kendala, tim mengaku tidak menyangka mampu meraih prestasi di tingkat internasional. Mereka berharap capaian ini menjadi awal kontribusi nyata dalam pengembangan dakwah yang lebih adaptif di era digital.

Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa siswa tidak hanya mampu berinovasi di bidang sains dan teknologi, tetapi juga mampu mengkaji fenomena sosial-keagamaan secara kritis dan solutif.

Penulis : Schaldy Maulidi Hidayat

Editor : Akasa Putra

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *