ARTIKEL

DIFABEL: MEREKA JUGA BERHAK UNTUK BERTUMBUH

jatimlines1 · · Diterbitkan 08:48 · 9 menit membaca
Ukuran Teks:

Oleh: Miswanto
Kepala SDN Pesanggrahan 01 Batu.

Dilema Difabel
Ketika mendengar kata disabilitas, autis, atau hiperaktif sering kali yang ada dalam benak kita adalah mereka yang memiliki kelainan baik fisik maupun mental. Masyarakat menganggap mereka ini sebagai kaum difabel, yakni sekelompok orang yang memiliki kemampuan berbeda (differently abled people), artinya cara fungsi tubuh mereka yang tidak sama dengan orang pada umumnya.
Istilah difabel ini mencakup fisik, sensorik, intelektual, dan mental. Tak jarang, mereka yang dipandang sebelah, tidak dianggap sama sekali, dan bahkan dianggap tidak layak untuk sekolah di sekolah umum seperti anak-anak pada umumnya.
Dalam dunia pendidikan kita pun, masih banyak sekolah yang menolak keberadaan kaum difabel seperti mereka. Ketika ada orang tua yang mendaftarkan anaknya yang dianggap memiliki kelainan tersebut, kadang pihak sekolah sudah langsung mengarahkan ke sekolah tertentu dicap sebagai sekolah khusus untuk anak-anak yang memiliki kelainan khusus. Dahulu anak-anak yang semacam ini kadang sudah langsung dimasukkan ke sekolah khusus (Sekolah Luar Biasa).
Kasihan juga sekolah-sekolah yang menerima anak-anak tersebut. Di samping harus melakukan bimbingan dan perhatian yang super duper ekstra, tak jarang mereka harus menerima stigmatisasi publik yang kadang tidak mengenakkan.
Di masyarakat sendiri, masih banyak publik yang mau menerima keberadaan mereka. Tidak semua orang bisa dan/atau mau bergaul dengan orang-orang seperti itu. Kenyataan ini justru akan membuat keadaan semakin terpuruk, karena secara otomatis itu akan melemahkan mentalnya.
Dalam lingkungan keluarga, anak-anak tersebut kadang juga tidak mendapatkan dukungan yang baik dari orang-orang terdekatnya. Ada pula keluarganya yang justru menganggap keberadaan mereka sebagai kutukan dan aib bagi keluarga. Orang tua kadang juga tidak menjadi pendamping yang baik bagi anak-anak mereka.

Sudahkah Pendidikan Kita Inklusif?
Dalam Buku Saku Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar (Yuwono, 2021) disebutkan bahwa pendidikan Inklusif (PI) merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua murid berkebutuhan khusus termasuk di dalamnya adalah murid penyandang disabilitas dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan murid-murid pada umumnya.
Secara legal standing-nya, Pemerintah sebenarnya sudah menjamin pelaksanaan pendidikan yang inklusif ini melalui Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 48 Tahun 2023 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Formal, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi. Bahkan di tingkat Pemerintah Daerah sudah banyak program atau edaran tentang pencanangan pendidikan inklusif.
Akan tetapi, pertanyaan yang mendasar adalah apakah setiap sekolah mau menerima anak yang dianggap kaum difabel tersebut? Jika masih ada sekolah yang menolak keberadaan mereka baik langsung maupun tak langsung, maka pendidikan kita sebenarnya belumlah inklusif.
Di atas kertas, mungkin sudah, bahkan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di sekolah-sekolah milik pemerintah, sudah tertera kuota untuk anak-anak penyandang disabilitas, meski jarang yang terisi. Akan tetapi, secara realitas, kadang tidak sesuai harapan. Masih ada saja sekolah yang tidak mau menerima kaum difabel tersebut.
Kadang yang membuat dilematis juga bagi orang tua saat SPMB adalah harus ada hasil tes atau surat keterangan yang menerangkan bahwa anak mereka termasuk difabel atau anak berkebutuhan khusus (ABK). Sementara pihak keluarga sendiri malu untuk mengurus apalagi membuatkan surat keterangan bahwa anak mereka berkebutuhan khusus. Istilahnya semakin ke sini, sebenarnya sudah dibuat semakin halus, namun itu tidak menghilangkan cap dan stigmatisasi yang ada di masyarakat sejak zaman baheula.

Guru Hebat Menjadikan Difabel menjadi Diva
Dalam sebuah film India berjudul Taare Zameen Par dikisahkan tentang Ishaan Awasthi, seorang anak berusia 8 tahun yang sering dianggap bodoh dan nakal karena kesulitan belajar, hingga akhirnya ia dibimbing oleh seorang guru seni bernama Ram Shankar Nikumbh yang mengubah hidupnya. Sang Guru Nikumbh menyadari bahwa Ishaan mengalami disleksia (kesulitan membaca dan menulis).
Akan tetapi, Nikumbh membantu Ishaan belajar dengan sabar dan menyadarkan orang tua murid bahwa setiap anak itu unik. Ishaan adalah salah satu contohnya, dari anak yang biasa diejek temannya karena lambat belajar, ia tumbuh menjadi anak yang luar biasa dengan bakat yang tidak dimiliki oleh teman-temannya.
Masyarakat kita mungkin seperti yang ada pada film Taare Zameen Par di atas, menilai anak selalu dari satu sudut pandang saja. Mereka bahkan tidak mau menilai dari sisi bakat yang dimiliki oleh anak-anaknya. Dahulu bahkan ada stigmatisasi bahwa anak-anak yang masuk kelas IPA lebih pintar daripada yang masuk kelas IPS.
Kalau pintar harus menjadi dokter, sampai masyarakat Jawa membuatkan lagu anak-anak yang akhirnya seakan-akan menjadi doktrin teologis. Nampaknya, doktrin-doktrin semacam ini masih dialami oleh anak-anak sehingga mereka yang tidak mampu di bidang itu akan dianggap tidak mampu.
Guru yang hebat, tentunya bukan hanya mereka yang mengajar di kelas IPA. Mereka yang mengajar di kelas IPS, atau kelas-kelas lain seperti vokasi juga adalah guru yang hebat. Sepanjang mereka menjadikan anak-anak didiknya menjadi orang yang sukses meraih impiannya.
Lebih hebat lagi dan sepertinya akan menjadi yang terhebat dari semua guru yang hebat adalah yang bisa seperti Guru Nikumbh pada film di atas. Para guru yang bisa menjadi anak-anak yang selama ini dianggap difabel menjadi diva sesuai dengan bakat yang dimilikinya adalah guru terhebat yang sesungguhnya.
Jika selama ini ada penghargaan untuk guru yang mengajar di sekolah umum apalagi sekolah favorit, dengan input murid yang bagus, karena dia bisa membuat muridnya juara OSN, O2SN, FLS3N, atau kejuaran-kejuaran internasional lainnya, maka bisa jadi itu sesungguhnya bukanlah penghargaan yang berarti untuk gurunya. Akan tetapi ketika ada guru yang bisa menjadikan murid-muridnya yang tadinya “divonis” lambat belajar, kemudian menjadi anak-anak yang bisa berprestasi, maka itulah arti penghargaan yang sesungguhnya bagi seorang guru.
Semestinya pemerintah sudah harus mulai memikirkan penghargaan untuk mereka-mereka yang sudah berjuang untuk menjadikan para difabel itu menjadi diva dalam kehidupannya. Itulah arti guru yang sesungguhnya, di mana ‘gu’ adalah kegelapan dan ‘ru’ adalah cahaya, dan guru adalah obor penyinar kegelapan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Agama, Nazaruddin Umar pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 2024 lalu (Sandy, 2024).
Mereka yang bisa menjadikan anak-anak yang dicap ‘cacat’ tersebut menjadi ‘hebat’ sesuai bakat dan potensi yang dimilikinya tentu akan benar-benar menjadi guru yang hebat. Merekalah yang layak untuk disebut sebagai obor penerang kegelapan yang sesungguhnya. Keberadaannya akan membawa sinar yang yang cerah bagi anak-anak yang selama ini termarginalkan.

Pengalaman Bersama Mendampingi Anak Difabel
Meskipun statusnya sebagai sekolah umum, sekolah kami (SDN Pesanggrahan 01 Batu) juga menerima anak yang berkebutuhan khusus. Di sekolah kami ada salah satu anak yang setelah dikonsultasikan dengan psikolog setempat saat di kelas I beberapa tahun lalu, anak tersebut tergolong lambat belajar. Sehari-harinya, dia cukup aktif dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Dia pun susah untuk diajak fokus belajar.
Saat gurunya mengajar, sering kali dia bermain-main dan tidak mau mengikuti pembelajaran dari gurunya. Dia malah asyik dengan dunianya sendiri. Menurut guru kelasnya, dia suka sekali dengan wayang. Oleh karena itu, di kelasnya disediakan beberapa wayang kulit mini yang sering diberikan oleh gurunya untuk “menenangkannya”.
Suatu hari ketika ada jadwal observasi, saya masuk kelasnya dan membersamai guru kelasnya saat mengajar. Benar saja, saya perhatikan mulai dari awal hingga akhir dia tidak mau diam dan fokus belajar ketika gurunya menjelaskan materi pelajaran. Kadang dia berjalan ke sana kemari, dari bangku ke bangku, bahkan nyaris mengganggu temannya. Untungnya teman-teman di kelasnya sudah memahaminya dan bisa menerimanya.
Beberapa saat kemudian, karena tidak bisa fokus, maka gurunya pun memberikannya beberapa wayang yang ada di kelasnya. Pandangan saya tidak bergeming dari perilaku si anak ini. Begitu diberikan wayang oleh gurunya, dia langsung duduk di bangkunya dan memainkan wayangnya yang diberikan oleh gurunya tersebut. Dia langsung asyik memainkan wayang tersebut bak seorang dalang yang memainkan wayangnya di dalam pertunjukan. Setelah bosan memainkan wayangnya, si anak dengan bakat yang tak biasa ini pun kembali mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.
Tahun ajaran ini, anak itu sudah naik ke kelas yang lebih tinggi. Meski saya melihat dia sudah ada sedikit perubahan, saya tetap berpesan kepada guru kelasnya yang baru, agar memperhatikan anak tersebut. Kini dia mulai fokus untuk belajar, meski kadang masih suka asyik dengan dunianya sendiri.
Beberapa waktu yang lalu saat ada ajang kreasi dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi murid baru, saya memberikan sambutan dengan cara yang berbeda. Saya memberikan sambutan dengan menggunakan media wayang mini Arjuna. Anak-anak nampaknya juga sangat antusias mengikuti sambutan saya. Sesekali saya ajak mereka untuk berkomunikasi dengan wayang Arjuna tersebut.
Lalu saya mengisahkan bagaimana kisah Arjuna berguru kepada Begawan Drona di Padepokan Sukalima. Dalam kisah tentang perjalanan Sang Arjuna yang berguru menimba ilmu itu saya kaitkan dengan konteks anak-anak belajar di Padepokan Pesat Batu (SDN Pesanggrahan 01 Batu).
Di sesi berikutnya saya mencoba memberikan pertanyaan kepada anak-anak yang mendengarkan cerita saya. Beberapa kali saya bertanya seputar kisah pewayangan Arjuna, dari sekitar 100-an siswa yang hadir, hanya ada satu yang bisa menjawab. Dialah si anak yang oleh teman-temannya dianggap berkebutuhan khusus sebagaimana yang saya ceritakan di atas.
Ketika saya coba pancing dengan pertanyaan, apakah kamu mau belajar wayang dengan Pak Mis? Anak itu menjawab dengan semangat, “mau…mau…Pak”. Dia memang punya minat yang benar dalam dunia pedalangan. Siapa yang tahu, kalau nanti dia yang akan menggantikan Ki Manteb Sudharsono atau Ki Seno Nugroho.

Penutup
Dari pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa anak-anak difabel pun akan bisa menjadi diva, jika mereka di tangan yang tepat, dengan kasih sayang penuh dari orang-orang terdekat. Jika bakatnya diasah, potensinya terus dilatih, dan diberikan kesempatan, bukan tidak mungkin anak-anak difabel seperti ini akan menjadi anak-anak yang hebat, yang merdeka, dan harapan masa depan. Sebagaimana Puisi Kahlil Gibran, “Kau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu. Sebab, mereka memiliki pikiran sendiri. Kau bisa memelihara tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka. Sebab, jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu.”

Daftar Pustaka
Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 612), ditetapkan pada tanggal 8 Agustus 2023.
Sandy, Shafira Sarah. 2024. Menag: Guru Adalah Obor Penyinar Kegelapan. Diakses dari https://kemenag.go.id/nasional/menag-guru-adalah-obor-penyinar-kegelapan-JuVkR.
Yuwono, Joko. 2021. Buku Saku Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Tinggalkan komentar